KETIKA ORANG ASING MEMINTAKU MENCIUM KENING ANAKNYA

KETIKA ORANG ASING MEMINTAKU UNTUK MENCIUM KENING ANAKNYA. . . Shalat Jum’at kedua di Masjid Awqaf, masjid yang baru saja dibuka oleh Sunnah Foundation Australia. . Selesai salam seorang ikhwan yang di sebelah kanan shafnya bersama putranya bertanya: . “Syaikh berada di gedung ini kan? Atau dia di negara lain tapi kita cuma liat di LCD?” . Saya menjawab “Dia di lantai dua dan kita di lantai 3, karena di sana sudah full jadi kita kebagian di sini”. . Dan setelah itu, ia sepertinya menjelaskan apapun yang kami bicarakan tadi ke putranya dalam bahasa Arab. Ia kemudian berbalik lagi kepadaku seraya berkata: . [selengkapnya di blog, link di bio] . . . . . #muslimahid #mahasiswamuslimah #mahasiswaindonesia #kuliahdiaustralia #kuliahdiluarnegeri #kuliahdisydney

A post shared by Lale Fatma Yulia Ningsih (@lalefatma) on

Shalat Jum’at kedua di Masjid Awqaf, masjid yang baru saja dibuka oleh Sunnah Foundation Australia.

Selesai salam seorang ikhwan yang di sebelah kanan shafnya bersama putranya bertanya: “Syaikh berada di gedung ini kan? Atau dia di negara lain tapi kita cuma liat di LCD?”

Saya menjawab “Dia di lantai dua dan kita di lantai 3, karena di sana sudah full jadi kita kebagian di sini”.

Dan setelah itu, ia sepertinya menjelaskan apapun yang kami bicarakan tadi ke putranya dalam bahasa Arab. Ia kemudian berbalik lagi kepadaku seraya berkata:

‘Ini school holiday jadi saya lebih leluasa mengajak anak saya sholat Jum’at, tapi di hari biasa, saya akan ke sekolah dan meminta izin kepada pihak sekolah, lalu setelah sholat Jum’at saya mengantarkannya kembali ke sekolah’

Ia juga bercerita kalau ia selalu berbicara dalam bahasa Arab dengan anaknya, mengajak anaknya ke majelis-majelis manapun di mana bahasa Arab digunakan. Ia tak mau anaknya kehilangan akar lisannya, bahasa para Nabi dan Rasul, begitu katanya. Meski nanti anaknya adalah native speaker of English, katanya lagi ia pun ingin anaknya tetap fasih berbahasa Arab. Di akhir percakapan, saya mengatakan:

“Anakmu sepertinya visual learners, matanya berbinar mencoba memvisualisasikan apapun yang kalian bicarakan tadi. Maaf saya sedikit menguping karna saya senang belajar dan mengobservasi perkembangan anak. Anyway, saya adalah guru.”

Sang ayah kemudian berkata “Iya, ibunya juga pakai flashcard untuk vocabulary bahasa Arabnya.”

Maka kami berpisah dan mengucap salam. Terakhir sang ayah meminta: “bolehkah kamu mencium kening anak saya dan berdoa untuknya?”

That’s it. Dan seperti biasa saya lupa menanyakan nama seseorang!!!

[Toni Ariwijaya]
Lakemba, Sydney, NSW. AU.
14 Juli 2017

Perspektif Bahasa . Dahulu mereka menggunakan strategi ‘devide et empera’ untuk memecah Indonesia menjadi kekuatan-kekuatan kecil, sehingga tak bisa berkutik di bawah penjajahan. Kasta sosial pun terbagi-bagi menjadi berbagai golongan. Tidak terlepas pula dalam penggunaan bahasa. Memisahkan istilah warga Indonesia keturunan dan warga pribumi (inlanders). Di zaman sekarang, mereka menyebut kita sebagai ‘immigrant’ yang mencari penghidupan yang lebih layak di negara mereka, sedang mereka sendiri yang juga tak lebih dari sekedar mengais rizki di tanah orang menyebut diri mereka sendiri sebagai ‘expatriate’. Kenapa tidak sama-sama disebut sebagai immigrant atau expatriate? Apakah karena yang satu mempunyai konotasi yang kurang baik sedang yang lain itu sebaliknya? Yah, jahat memang. . . Tapi lebih jahat lagi, bagi saya, ketika ada orang yang menghina seorang pemimpin (gubernur) dan ulama di NTB dengan kata-kata ‘Dasar Indo, Dasar Indonesia, dasar Pribumi, tiko’*. Dan untuk menyampaikan hinaan itu, dia menggunakan Bahasa Indonesia dan tinggal di Indonesia. . . *kronologisnya bisa diakses online, juga arti kata ‘tiko’. #suleymaniyemosque #istanbul #istanblue #istanbullife

A post shared by Lale Fatma Yulia Ningsih (@lalefatma) on

BELAJAR BAHASA DENGAN OTAK EKSAKTA

📚There will always be, at least, one way to simplify every complexity, as Albert Einstein 👨‍🏫 once explained: . . You see, wire telegraph is a kind of a very, very long cat 🐱 You pull his tail in New York and his head is meowing in Los Angeles. Do you understand this? And radio operates exactly the same way: you send signals here, they receive them there. The only difference is that there is no cat. . . Selalu ada cara untuk menyederhanakan hal-hal rumit, seperti kata Albert Einstein: “Telegraph itu seperti kucing yang sangat panjang. Kau tarik ekornya di New York lalu kepalanya mengeong di Los Angeles. Maka radio bekerja dengan cara yang hampir sama: kau kirim signal di sini, mereka terima sinyalnya di sana. Bedanya hanya tak ada kucing.” . *** . Di pertengahan 2014: Seorang kakak tingkat yang saat itu sedang sibuk-sibuknya dikejar deadline tugasnya di Australian National Uni (ANU) menyempatkan mengedit dan proof reading aplikasi beasiswa yang saya kirimkan via email sebelum di submit via POS (literally kantor POS). . “Kenapa kok Mbak baik banget? Ketemu aja ga pernah. Saya benar-benar ga tau mesti membalas kebaikannya dengan cara apa”, tanya saya. Mbak penolong (perantara pertolongan Allah) saya menjawab “Kamu akan jadi pembuktian sekaligus pengobat kekecewaan saya sekian tahun meyakinkan orang eksak untuk melamar beasiswa Australia. Tapi saya dikecewakan dengan alasan klasik yaitu Bahasa Inggris.” *** “Bahasa-bahasa di dunia ini umumnya memiliki pola yang sama, hanya butuh logika dalam permainan ruang, waktu dan gender”. Kira-kira begitu inti percakapan si Lintang dan Ikal dalam novel legendaris Laskar Pelangi. (Oleh Toni Ariwijaya) [Selanjutnya di blog, link di bio] . . . . #mahasiwaindonesiadisydney #universityofnewsouthwales #muslimahindonesia #muslimahindonesiaid #kuliahdiaustralia #kuliahdiluarnegeri #unsw #unswstudents #unswstudentlife

A post shared by Lale Fatma Yulia Ningsih (@lalefatma) on

There will always be, at least, one way to simplify every complexity, as Albert Einstein once explained:

You see, wire telegraph is a kind of a very, very long cat. You pull his tail in New York and his head is meowing in Los Angeles. Do you understand this? And radio operates exactly the same way: you send signals here, they receive them there. The only difference is that there is no cat.

Selalu ada cara untuk menyederhanakan hal-hal rumit, seperti kata Albert Einstein:
“Telegraph itu seperti kucing yang sangat panjang. Kau tarik ekornya di New York lalu kepalanya mengeong di Los Angeles. Maka radio bekerja dengan cara yang hampir sama: kau kirim signal di sini, mereka terima sinyalnya di sana. Bedanya hanya tak ada kucing.”

***

Di pertengahan 2014:
Seorang kakak tingkat yang saat itu sedang sibuk-sibuknya dikejar deadline tugasnya di Australian National Uni (ANU) menyempatkan mengedit dan proof reading aplikasi beasiswa yang saya kirimkan via email sebelum di submit via POS (literally kantor POS).
“Kenapa kok Mbak baik banget? Ketemu aja ga pernah. Saya benar-benar ga tau mesti membalas kebaikannya dengan cara apa”, tanya saya.
Mbak penolong (perantara pertolongan Allah) saya menjawab “Kamu akan jadi pembuktian sekaligus pengobat kekecewaan saya sekian tahun meyakinkan orang eksak untuk melamar beasiswa Australia. Tapi saya dikecewakan dengan alasan klasik yaitu Bahasa Inggris.”

***

“Bahasa-bahasa di dunia ini umumnya memiliki pola yang sama, hanya butuh logika dalam permainan ruang, waktu dan gender”. Kira-kira begitu inti percakapan si Lintang dan Ikal dalam novel legendaris Laskar Pelangi.

Sama seperti pemimpi-pemimpi lainnya, buaian mimpi luar negeri terpatri pada diri ini sejak kecil. Hingga kuliah s1, 10 tahun yang lalu pun, tak pernah mimpi ini padam. Kalau redup sering, dan masalah utama keredupannya adalah saat melihat syarat minimal TOEFL atau IELTS untuk melamar beasiswa. Bermimpi untuk menulis essay panjang lebar dalam bahasa Inggris pun tak pernah, saya yang saat sekolah nilai raport nya selalu 60 (dari skala 100) ini cukup tahu diri bahwa saya adalah produk gagal sebuah kurikulum English as a Foreign Language/Second Language dan menjadi realistis kalau semester 5 di jurusan pendidikan fisika sudah terlalu kronis untuk memperbaiki semuanya.

Saat mimpi hampir terkubur, kutipan percakapan di Laskar Pelangi nya mas Andrea Hirata membawa perubahan yang ajaib. Begini kira-kira saya dulu menganalisis penggalan percakapan Lintang dan Ikal di atas:
Bahasa Inggris memberlakukan sekat dalam perubahan pola kata nya untuk masing-masing gender, semisal femina dan masculina di bahasa perancis.

Seorang pengguna bahasa yang sedang berbicara atau menulis, terjebak dalam dimensi waktu sekarang (present), sehingga untuk kembali ke masa lalu atau berandai-andai ke masa depan ia harus memiliki tiket bernama past and future tenses.

Untuk memahami preposisi, saya berimajinasi sebagai sebuah titik di dekat lingkaran besar. Ketika saya sedang bergerak menuju lingkaran maka ada dua kemungkinan yaitu saya terhenti di permukaan (onto) atau saya berhasil masuk inti (into).

Dengan berimajinasi seperti di atas, dan imajinasi-imajinasi spatial lainya, saya adalah kertas kosong yang siap di corat coret warna-warni. Tak ada lagi rumus-rumus tenses yang kalau di hapal puluhan tahun tak nyangkut-nyangkut. Dalam waktu 6 bulan, dengan perspektif yang saya konstruksi sendiri sejak saat itu bisa mengaplikasikan hukum-hukum tenses hanya dengan buku Raymond Murphy: English Grammar in Use, tanpa perlu kursus atau hijrah ke kampung inggris dll.

Semoga bermanfaat.

IA YANG TAK BERDETAK

“Dua Garis” [08/05/2015]

Suami tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dua test pack yang menunjukkan tanda positif masih membuatnya belum percaya kalau saya tengah hamil; sebab tak ada mual, tak ada permintaan berbagai macam hal yang mencirikan orang hamil. Tapi suami dan saya sungguh sangat bahagia, it’s just too good to be true.

Baby boy kami memanggilnya, karena menurut suami, kalau janin tak rewel maka yang akan hadir adalah anak laki-laki. Kami pun telah menyediakan nama baginya. Sebuah nama dari bahasa Persia, Turki, Pakistan dan juga China yang berarti pemimpin jujur yang berfikir dan bertindak secepat kilat (cerdas dan tangkas) nan sukses dalam pengembaraannya.

Test Pack Pertama dan Kedua

Test Pack Pertama dan Kedua

***

“Detak Perdana” [25/05/2015]

“We almost burst into tears” adalah sebuah tulisan singkat yang ingin saya post di salah satu media sosial sesaat setelah keluar dari ruang periksa dokter kandungan di Denpasar Bali. Tapi sesat kemudian niat itu saya urungkan, biarlah ia menjadi kenangan tersendiri di hati kami. Sepanjang jalan balik menuju kos kami lebih banyak terdiam, kami larut dalam khayalan masing-masing dan dalam kebahagian yang tak terhingga.

Baby Boy

Baby Boy

***

“Pulang, Demi Baby Boy” [03/06/2015]

Dengan menggunakan obat penguat kandungan saya mengelus baby boy sambil tilawah agar ia kuat naik pesawat—lagi—karena ketidakmampuan ibunya bertahan atas bau-bau dupa yang berseliweran selalu di Bali. Baby boy, kita pulang.

***

“Ia yang Tak Berdetak” [01/06/2015]

“Saya ada kabar buruk ini mbak, janinnya tak ada detak jantungnya”. Setelah itu saya tak ingat apa-apa lagi yang diucapkannya. Segala kata dari dokter kandungan tersebut mental bagai air yang jatuh di daun talas.

Yang saya ingat hanya satu hal, mengabarkan hal ini kepada suami: “Dad, mom just went to the doctor to see my growth. Doctor said, I have no heartbeat inside here. Doctor suggested that I should take another USG check next week. If my condition is just the same, they will take me out from mom’s womb. Please do pray for me for this critical 7 days. Love you dad!”

Kami telah siap apapun yang terjadi, meskipun ia bertahan dan akan menjadi anak yang spesial. Kami telah siap dengan semua kemungkinan yang ada. Itulah kesimpulan percapakan kami yang panjang. Mungkin inilah takdir Allah, suami mendapatkan beasiswa untuk pasca sarjana di bidang special education. KAMI SIAP DENGAN SEGALA KEMUNGKINAN!

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Baby Boy Tak Berdetak

***

“Kami Tempuh Segala Cara” [04/06/2015]

Atas saran dari beberapa teman, saya kemudian mencari dokter lain untuk check ulang, bahkan kalau perlu sampai 2-3 kali lagi. “Kita cari dokter lain, second opinion, KITA TEMPUH SEGALA CARA!!!”

RSIA P*rm*t* h*t* adalah RSIA yang dianggap paling bagus di Mataram yang disarankan beberapa kawan, tapi pemeriksaan menunjukkan hal yang sama “dead conceptus”. Bahkan dokter senior ini mengatakan bahwa janin telah tak ada lama semenjak saya masih di Bali. Semenjak ia baru berusia 1.5 bulan. Dokter menyarankan saya harus dikuret lusa agar tak terjadi infeksi.

Dalam perjalanan pulang, saya kembali bertekad memeriksakannya ke dokter lain. KAMI TEMPUH SEGALA CARA!

Baby Boy "Dead Conceptus"

Baby Boy “Dead Conceptus”

***

“Sakit Yang Tak Terkira” [05/06/2015]

Sesaat sebelum berbuka puasa, saya kembali menghebohkan seisi rumah, pendarahan terjadi, saya harus segera dikuret. Bahkan dikuret dokter laki-laki. Tak ada pilihan lagi untuk dokter perempuan, dokter perempuan tersebut adalah dokter yang pernah menangani salah seorang akhwat dan nyawa akhwat tersebut tak tertolong. Suami tak mau ambil resiko. Sedang kalau saya dibawa ke Mataram, kondisi saya akan semakin buruk. Keputusan telah diambil: dokter yang menangani saya adalah dokter yang setiap Selasa dan Jum’at praktik di rumah! Dokter laki-laki yang selalu saya hindari!

Dalam sakit yang tak terperi saya berdoa agar kelak, suatu saat nanti salah satu anak perempuan saya menjadi dokter kandungan.

***

“And to HIM Belongs All Things” [05/06/2015]

Sedetik setelah obat bius berkerja—proses setengah jam terasa sedetik—saya terbangun dan gerakan reflek mengelus perut yang telah rata. Perasaan sungguh tak menentu, namun hidup untuk terus berjalan; sesaat setelah pengaruh obat bius hilang saya melayani pemesanan jilbab dan pashmina Turki, merespon pemesanan buku amatiran kami dari FLP Turki. Dan, pesan dari suami membuat saya tertegun “You and I, we are resilience couple, we are stronger than a pinnacle of rocks. I was crying but now I am not. Jangan dipikirkan apa-apa yang telah diambil dari kita. In sha Allah akan ada ganti yang lebih baik. Mungkin selama ini kita masih perlu belajar ilmu ikhlas”.

Berbagai hal bergelanyut dalam pikiran hingga tak bisa tidur, saya lantas mencari channel yang bisa mengusir kebosanan. Sebuah channel sedang menayangkan sholat isya live dari Mekah dan terjemahan pertama yang saya baca dalam salah satu rakaat imam tersebut adalah “AND TO HIM BELONG ALL THINGS”

Bahwa kami juga suatu saat nanti akan kembali. Allahu Akbar. Ya Allah. Kami ikhlaskan baby boy………..

Mengikhlaskan Baby Boy

Mengikhlaskan Baby Boy

Note: beberapa kejadian menyedihkan saya hapus, biarkan ia menjadi kenangan saya dan suami.

SIKAT GIGI YANG MANDIRI

SIKAT GIGI YANG MANDIRI

Sumber photo: ishotthat.blogspot.com

SAYA sebenarnya sedikit benci dengan ide menulis yang datang tiba-tiba. Terkadang ide itu datang ketika saya sedang asik-asiknya menulis tugas kuliah. Terkadang malah ide itu muncul ketika saya sedang sikat gigi! Iya, hanya karena sikat gigi. Sikat gigi yang membawa saya berkelana kembali ke masa lalu.

***

Pagi ini ada penyuluhan tentang kesehatan gigi disekolah oleh P*ps*d*nt dan PDGI. Masing-masing siswa harus membawa sikat gigi ke sekolah. Untunglah gak perlu bawa odol juga, kalau iya bisa marah-marah Inaq [suku sasak: ibu] dan ngomel-ngomel menyebut guru kami KKN. Saya masih ingat dulu ketika SD, guru-guru sering menugaskan kami untuk membuat sapu lidi dan dikumpulkan sebagai nilai mata pelajaran Kerajinan Tangan. Beralasan juga ibu saya mengatakan seperti itu, karena hitung saja berapa jumlah siswa perkelas, misalnya kelas saya waktu itu ada 23 orang. Jadi ada 23 buah sapu lidi. Akan diapakan sapu lidi sebanyak itu? Untuk piket bersih kelas, paling banter kami membutuhkan 5 biji sapu lidi, karena tiap harinya hanya 5 biji yang terpakai. Selebihnya? Mungkin dibawa ke rumah guru tersebut. Kali ini saya bilang ‘Wallahu’alam bishawab’.

Saya juga tidak menyalahkan kalau seandainya ada guru seperti itu. Di zaman saya dulu, guru SD gajinya tak seberapa—setelah saya beranjak dewasa baru saya mengetahui bahwa pemerintah ternyata tidak terlalu memperhatikan kesejahteraan guru. Salah satu guru SD saya dulu adalah langganan ibu saya di pasar. Beliau sering mengeluh tentang gaji yang sedikit, jadilah ibu saya berbaik hati memberikan diskon harga sayur. Kalau saya pikir tak apalah guru saya berbuat seperti itu—maksud saya membawa sapu lidi tersebut untuk digunakan dirumah. Toh, kalau didiamkan di sekolah juga akan jadi barang mainan kami; menjahili teman sebangku, dijadikan tusuk sate ketika kami main masak-masakan, dan lain sebagainya. Nah, begitulah sejarah ibu saya sering ngomel-ngomel tentang guru kami yang KKN—padahal hanya sapu lidi. Kadang-kadang saya berpikir bahwa ibu saya terlalu mendramatisir keadaan atau mungkin karena ibu saya tau bagaimana susahnya cari uang.Ya mungkin saja.

Balik lagi ke isu penyuluhan gigi. Subuh-subuh saya sudah sibuk mengurus sikat gigi saya ini. Sikat gigi saya waktu itu sudah tua sekali, maklum jatah kami berganti sikat gigi hanya sekali setahun—yang idealnya sikat gigi diganti 3 bulan sekali. Bulu sikat gigi saya sudah meluber kemana-mana. Jadi sebelum berangkat kesekolah saya harus memperbaiki sikat gigi saya terlebih dahulu. Kebayang kan bagaimana memperbaiki sikat gigi? Silahkan membayangkan sendiri dah.

Seperti biasanya, mereka memperagakan bagaimana cara menyikat gigi yang baik, kemudian kami mempraktikkannya diluar, syukur teman-teman saya tidak terlalu memperhatikan sikat gigi saya, mereka sibuk dengan adegan menyikat gigi yang baik dan benar. Sibuk menarik perhatian dokter-dokter gigi yang cantik dan ganteng. Sedang saya sibuk menyembunyikan sikat gigi saya yang buruk rupa dibalik mulut saya. Untunglah.

Sesi terakhir penyuluhan ini sebenarnya yang saya tunggu-tunggu, sesi pertanyaan dengan hadiah yang menggiurkan. Saya berdoa semoga saja hari ini saya yang beruntung mendapatkan hadiah tersebut. Saya sudah tegang mendengar pertanyaan yang dibacakan. “Lapisan terluar gigi disebut?”
Dengan cekatan saya angkat tangan, sebelum kesempatan diambil orang. Saya sempat celingak celinguk kiri kanan, dan hanya saya sendiri yang angkat tangan. Ternyata ada juga manfaatnya saya khusuk menyimak penyuluhan gigi untuk menyembunyikan sikat gigi yang buruk rupa selagi teman yang lain sibuk memamerkan sikat gigi mereka. Singkatnya, saya hari ini pulang sekolah dengan riang gembira; membawa dua sikat gigi warna biru dan warna kuning. Kuning buat saya dan yang biru buat adik saya. Akhirnya kami punya sikat gigi yang baru, tidak harus menunggu enam bulan lagi.

–tamat—

***

DAN, ketika saya menyikat gigi hari ini, di negara lain. Hari ini saya bangga, kalau diingat-ingat, inilah hari pertama saya merasa bangga terhadap diri sendiri yang sebelumnya sangat pesimistis melihat teman sekelas saya yang otaknya canggih-canggih, yang ngomong bahasa inggris selancar minum air. Hari ini saya bangga hanya karena SIKAT GIGI; bahwa hari ini saya tidak lagi bergantung pada orang tua untuk membeli sikat gigi yang baru. Bahwa hari ini, dengn uang yang saya punya, saya bisa membelikan ratusan sikat gigi yang baru untuk mereka—meskipun dari uang beasiswa dan uang jadi guide di Istanbul.

Hasan Al-Banna pernah merumuskan 10 kunci kualifikasi manusia pembangun peradaban, salah satunya adalah mandiri secara ekonomi—selebihnya silahkan cari dengan ’10 muwashofat tarbiyah’. Jadi kalau kita tak mandiri secara ekonomi, jangan bermimpi untuk menjadi salah satu diantara para manusia pembangun peradaban sekelas Saifuddin Qutuz ataupun Muhammad Al-Fatih. Selamat mempersiapkan diri menjadi manusia pembangun peradaban dimanapun kita berada.

SEBUAH IRONI YANG BERKELANJUTAN: DAYLIGHT SAVING TIME

Tepat di tanggal 27/10/2013 waktu di di negara Turki dimajukan satu jam lebih awal dari biasanya. Memasuki musim panas—yang sebenarnya masih spring—waktu akan dipercepat satu jam. Sedangkan, memasuki musim dingin—yang sekarang sebenarnya masih fall—waktu akan diperlambat satu jam.  Nah, pada hari ini tanggal 27/10/2013 yang terjadi adalah waktu diperlambat satu jam. Artinya bahwa kemarin pada tanggal 26/10/2013 waktu subuh adalah jam 05:54 (hampir jam 6) maka pada tanggal 27/10/2013 (keesokan harinya) subuh akan jadi lebih awal pada 04:55 (hampir jam 5). Satu jam perbedaan.

Artinya bahwa Sholat Dzuhur dilaksanakan jam 11:55 (hampir jam 12). Sholat Ashar jam 14:46 (hampir jam 3 siang). Sholat Magrib jam 17:15 dan Sholat Isha jam 18:35.

Untunglah perubahan waktu ini oleh para ahli sudah di atur dengan sedemikian rupa. Sehingga laptop dan hp dengan sendirinya menyesuaikan. Bayangkan kalau saja ini tidak otomatis. Banyak orang yang mungkin lupa mengatur jam sehingga keesokan harinya telat telat kesekolah, kampus, ataupun ke kantor.

Sebenarnya saya sedang bicara ngalor-ngidul entah kemana. Sebenarnya hal inti yang mau saya bicarakan disini adalah bagaimana SEBUAH IRONI yang saya tulis sebelumnya menjadi SEBUAH IRONI BERKELANJUTAN. Disebabkan oleh perbedaan waktu antara Istanbul-Turki dengan Lombok-Indonesia tepat 6 jam. Ketika saya mengatakan selamat malam, kau disana mengatakan selamat pagi. Oh ya, Selamat Hari Sumpah Pemuda buatmu disana, disini masih 7 jam lagi.  Selamat malam waktu Istanbul-Turki dan selamat pagi waktu Lombok-Indonesia.

TENTANG SEBUAH MUSIM GUGUR

TENTANG SEBUAH MUSIM GUGUR

1. Mau motoin salah seorang teman dengan gaya tiduran di atas daun-daun musim gugur, kayak di film-film. Saya sudah membayangkan nantinya foto ini akan jadi foto fenomenal di facebook berjudul “Istanbul Fall 2012”. Ketika saya sudah siap mau ambil foto, teman tadi nyeletuk “Eh, ada tai anjing gak ya? Di Indonesia kan banyak tai anjing kalau ada tumpukan daun kayak gini”. Saya terdiam gak tau mau jawab apa. HERAN. _FALL 2012_ #Lale

2. Saya memilih ngambil foto sederhana saja, cukup sebagai kenang-kenangan ketika saya tua nanti. Kenangan bahwa saya pernah berada di negeri yang sangat jauh. Saya kemudian mengambil sehelai daun musim gugur dan saya tuliskan “Lale Fatma Yulia Ningsih, Fall, October 2012”. Dan ketika saya tua nanti saya akan berkata pada mereka “NaK, ini salah satu contoh daun musim gugur di negeri nun jauh disana, tidakkah kau ingin melihat keindahan musim gugur? Kalau ia, pergilah, selagi kalian masih ada umur, selagi kalian masih muda, lihatlah dunia”. BERJALANLAH. _FALL 2012_ #Lale

3. Ketika saya berjalan di jalanan sekitar kampus, angin bertiup kencang meniup daun-daun. Beberapa daun jatuh di depan saya, saya ngerasa seperti di film-film romantis barat. Pemeran ceweknya lagi asik dengerin musik sembari melihat dedaunan gugur, eh tiba-tiba ada cowok nabrak, dan jreng [sambil ada background music]; Love at the first sight. Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin saya bicarakan. Saya sedang berpikir tentang tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan sepengetahuan Tuhan. Dan di tengah jalan saya bertemu dengan seorang ibu-ibu berwajah Indonesia, karena saya malu saya tak menyapa ibu tadi. Jalan menuju asrama saya terus berpikir setelah melihat kotoran burung di jalanan Istanbul; “tak ada satu kotoran burungpun yang jatuh kecuali atas sepengetahuan Tuhan, kalaupun jatuh di atas kepala orang, pasti itu teguran atau cobaan”. Beberapa saat setelah itu, saya berasumsi bahwa teguran Allah telah datang karena saya tak menegur ibu tadi; kotoran burungpun hinggap di jilbab manis saya hari ini. ASIN! _FALL 2012_ #Lale

4. Saya pandangi daun yang di atasnya saya tulis nama saya tadi. Saya merinding, teringat bahwa salah satu tanda kematian adalah bagian pusar kita akan berdenyut di waktu asar; ketika itu daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pohon yang letaknya di Ars Allah SWT. Bukankah tadi saya baru saja menuliskan nama saya di salah satu daun musim gugur? NGERI. _FALL 2012_ #Lale

NEGERI DIANTARA LAUTAN

Image

Photo: Raja Ampat. Sumber: http://www.pixoto.com/indrampe

Dahulu kala, ada sebuah cerita tentang sebuah kabilah yang hidupnya berpindah-pindah—nomaden. Mencari sebuah negeri yang subur untuk didiami. Singkat cerita, kabilah mereka menuju bumi sebelah timur, sayangnya bumi sebelah timur nan subur itu sudah ditempati kabilah lain. Berangkatlah mereka lagi menuju bumi sebelah utara, tapi sayangnya lagi bumi sebelah utara nan kaya itu sudah ada kabilah tangguh. Mereka kemudian dengan gontai menuju ke arah barat, tapi lagi-lagi daerah ini barat dipenuhi dengan benteng yang berat untuk ditembus. Dengan setengah asa untuk mendapatkan tempat yang lebih layak, mereka kemudian menuju ke arah selatan. Mereka sungguh sangat kaget, yang didapati malah gurun pasir tak berpenghujung. Mereka dengan gontai kemudian berbalik arah. Semua arah mata angin sudah mereka jelajahi. Mereka hanya memiliki dua pilihan; menumpang hidup di kabilah-kabilah tersebut dan menjadi budak mereka atau mencari daerah yang mungkin belum sempat terjelajahi.

Suatu hari mereka mendapatkan angin segar bahwa suatu negeri di daerah tenggara terdapat sebuah negeri yang kekayaan alamnya melimpah ruah, hanya saja terdapat satu kesulitan; negeri itu ternyata nun jauh di tengah lautan luas. Mereka harus punya sesuatu untuk menyebrang ke negeri tersebut serta pasokan makanan pun harus memadai. Musyawarah pun digelar, menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengarungi lautan luas nan ganas itu daripada menanggung malu hidup menumpang di kabilah lain. Nenek moyang kabilah ini mengajarkan mereka untuk tak tmenggantungkan diri pada orang lain. sungguh akan menjadi aib kalau hal itu terjadi. Tapi, sekarang timbul yang jadi kesulitan terbesar adalah bagaimana mereka harus mengarungi laut luas nan ganas itu?

Sementara pemuka-pemuka kabilah terus melakukan musyawarah demi musyawarah, pemuda-pemuda kabilah itu lebih senang berburu dan bersenang-senang daripada harus memikirkan hal yang menjaid tanggung jawab pemuka kabilah. Tapi seperti janji Tuhan Semesta Alam, bahwa setiap apa-apa yang ia ciptakan berpasang-pasangan. Diantara pemuda-pemuda nan bagus paras rupa, ada seorang pemuda berparas biasa saja. Tapi ia sangat senang jika diajak bermusyawarah memikirkan nasib kabilah. Ia senang mendengarkan pemuka-pemuka kabilahnya bermusyawarah. Ia kadang tak ragu menjadi pelayan yang menuangkan minum untuk pemuka kabilah ketika mereka sedang bermusywarah—yang sebenarnya tugas itu adalah tugas kaum wanita kabilah tersebut. Ia pemuda yang lebih senang merenung didalam hutan dibanding pemuda sebayanya yang lebih suka bersenang-senang. Ia merasa tenang, walau tak ada gadis rupawan yang tertarik padanya. Setidaknya alam menjadi teman setianya selama ini. Dan selama ia bisa memberi manfaat kepada kabilahnya, akan sangat cukup membuat hatinya senang.

Iya, mungkin dia tak sepintar teman-temannya yang lain dalam bergaul dengan pemuda yang ada di kabilahnya. Iya, mungkin ia tak sepandai pemuda lainnya untuk menaklukkan hati wanita dibandingkan dengan pemuda lain di kabilahnya. Tapi sungguh, ia mempunyai hati yang mulia. Hari-harinya ia penuhi dengan menyepi ketika berita dari pemuka-pemuka agamanya ia dengar, bahwa ada suatu negeri subur yang akan menjadi masa depan bagi kabilahnya. Ia sedang menyelesaikan sebuah misi. Misi untuk membantu kabilahnya menyebrangi tanah impian. Sampai suatu hari ia datang kepada pemuka kabilah. Ia menyatakan maksudnya. Mula-mula mereka tak percaya, tapi setelah pemuka kabilah tersebut menyaksikan sendiri bagaimana kayu-kayu yang pemuda itu bentuk menjadi sebuah alat yang bisa mengapung di lautan, barulah mereka percaya.

Tak mau menunggu terlalu lama, keesokan harinya mereka pun memulai pelayaran menumbus samudera luas dan ganas. Berhari-hari. Mereka merasakan dingin yang sangat. Lapar yang ditahan. Ikan mentah harus mereka makan hidup-hidup. Tak ada api, karena api sama saja dengan menenggelamkan seluruh anggota kabilah. Sampai tibalah mereka pada suatu daerah yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Suatu daerah yang mereka gambarkan sebagai surga dunia. Sebuah negeri yang sekarang kita kenal dengan nama N-U-S-A-N-T-A-R-A. Sebuah negeri yang seperti namanya; negeri yang diantaranya lautan luas.

Ketika semua orang sibuk bergembira-ria pemuka kabilah datang menghampiri pemuda biasa-biasa saja itu. Pemuka kabilah berterimakasih pada pemuda berhati mulia tersebut. Pemuda itu hanya tersenyum dan memberikan senyum yang penuh arti kepada sang pemuka kabilah. Ia bangga dengan apa yang ia lakukan. Iya betul, ia mungkin pemuda biasa saja, tapi hatinya sungguh luar biasa.

Ia kemudian melanjutkan hari-harinya seperti biasa, mengumpulkan kayu-kayu sebagai bahan ia membuat tempat bernaung, membuat sebuah pondokan. Hingga pada suatu malam ketika ia sedang menatap ayam liar panggangannya matang, seorang gadis cantik jelita menghampirinya.

“Aku diutus ayahku, pemuka kabilah ini untuk mengirim hadiah kepadamu”

Pemuda tersebut melihat beberapa barang yang gadis cantik jelita itu bawa; kacang-kacangan dan umbi-umbian. Ia sangat bersyukur. Makanan yang dibawa oleh gadis jelita tadi cukup untuk ia bertahan seminggu. Ia pun bisa beristirahat seminggu tanpa harus pergi ke hutan. Ia kemudian sibuk kembali dengan ayam panggangnya. Tapi, gadis tersebut masih berdiri di dekat pondokannya. Pemuda tersebut memberikan tatapan heran seakan mengatakan “ya sudah pergi, ngapain disini?”. Sadar dengan tatapan bertanya pemuda tersebut, gadis jelita itu kemudian berkata.

“Ayahku menyuruhku untuk menikah denganmu, menetap denganmu, dan melahirkan anak-anak dengan generasi yang cerdas sepertimu. Agar kelak nanti keturunan kabilah kita mempunyai keturunan yang cerdas-cerdas bukan hanya keturunan yang bagus rupa…”

Oh ya, saya hampir lupa, nama pemuda itu adalah ‘Indo’ dan gadis tersebut bernama ‘Anesia’. Mereka adalah INDONESIA.

—tamat—

Cerita diatas hanya khayalan saya saja setelah membaca sejarah bagaimana Nabi Nuh Ibrahim di utus untuk berdakwah, mengajak bangsa Mesopotamia yang dikenal sebagai peradaban tertua di dunia. Saya seolah-olah membayangkan ada juga kabilah tertentu yang ingin juga memiliki lahan seperti Mesopotamia, maka mereka mencari lahan baru untuk mereka tinggali, menetap dan tidak lagi berpindah-pindah—nomaden. Saya membayangkan bagaimana bangsa Yunani yang nomaden tergiur dengan peradaban Mesopotamia dan akhirnya menemukan I-N-D-O-N-E-S-I-A.

INDONESIA kita adalah surga melebihi negeri yang diantaranya mengalir dua sungai; MESOPOTAMIA. Mesopotamia hanya memiliki dua buah sungai. Sedang Indonesia adalah negeri yang diantaranya LAUTAN. Bukan hanya sekedar sungai, tapi kita punya LAUT!

Hal yang saya ingin sampaikan dari cerita diatas adalah bagaimana bangsa Yunani—yang menurut beberapa sumber sejarah adalah nenek moyang kita—bertarung dengan ganasnya alam, ganasnya lautan luas untuk menemukan Indonesia. Dan sebagai pemuda generasi tangguh itu, jikalau kita masih diam ditempat, kita sebenarnya telah bergerak mundur dibanding dengan nenek moyang kita—yang katanya adalah pelaut handal. Maka patutlah kita seperti mereka. Mengarungi samudera luas nan ganas, menembus daratan stepa dan savana untuk hidup yang lebih baik. Dan, bahwa negeri itu bukan hanya kaya harta tapi juga memiliki pemuda jaya!