KETIKA ORANG ASING MEMINTAKU MENCIUM KENING ANAKNYA

KETIKA ORANG ASING MEMINTAKU UNTUK MENCIUM KENING ANAKNYA. . . Shalat Jum’at kedua di Masjid Awqaf, masjid yang baru saja dibuka oleh Sunnah Foundation Australia. . Selesai salam seorang ikhwan yang di sebelah kanan shafnya bersama putranya bertanya: . “Syaikh berada di gedung ini kan? Atau dia di negara lain tapi kita cuma liat di LCD?” . Saya menjawab “Dia di lantai dua dan kita di lantai 3, karena di sana sudah full jadi kita kebagian di sini”. . Dan setelah itu, ia sepertinya menjelaskan apapun yang kami bicarakan tadi ke putranya dalam bahasa Arab. Ia kemudian berbalik lagi kepadaku seraya berkata: . [selengkapnya di blog, link di bio] . . . . . #muslimahid #mahasiswamuslimah #mahasiswaindonesia #kuliahdiaustralia #kuliahdiluarnegeri #kuliahdisydney

A post shared by Lale Fatma Yulia Ningsih (@lalefatma) on

Shalat Jum’at kedua di Masjid Awqaf, masjid yang baru saja dibuka oleh Sunnah Foundation Australia.

Selesai salam seorang ikhwan yang di sebelah kanan shafnya bersama putranya bertanya: “Syaikh berada di gedung ini kan? Atau dia di negara lain tapi kita cuma liat di LCD?”

Saya menjawab “Dia di lantai dua dan kita di lantai 3, karena di sana sudah full jadi kita kebagian di sini”.

Dan setelah itu, ia sepertinya menjelaskan apapun yang kami bicarakan tadi ke putranya dalam bahasa Arab. Ia kemudian berbalik lagi kepadaku seraya berkata:

‘Ini school holiday jadi saya lebih leluasa mengajak anak saya sholat Jum’at, tapi di hari biasa, saya akan ke sekolah dan meminta izin kepada pihak sekolah, lalu setelah sholat Jum’at saya mengantarkannya kembali ke sekolah’

Ia juga bercerita kalau ia selalu berbicara dalam bahasa Arab dengan anaknya, mengajak anaknya ke majelis-majelis manapun di mana bahasa Arab digunakan. Ia tak mau anaknya kehilangan akar lisannya, bahasa para Nabi dan Rasul, begitu katanya. Meski nanti anaknya adalah native speaker of English, katanya lagi ia pun ingin anaknya tetap fasih berbahasa Arab. Di akhir percakapan, saya mengatakan:

“Anakmu sepertinya visual learners, matanya berbinar mencoba memvisualisasikan apapun yang kalian bicarakan tadi. Maaf saya sedikit menguping karna saya senang belajar dan mengobservasi perkembangan anak. Anyway, saya adalah guru.”

Sang ayah kemudian berkata “Iya, ibunya juga pakai flashcard untuk vocabulary bahasa Arabnya.”

Maka kami berpisah dan mengucap salam. Terakhir sang ayah meminta: “bolehkah kamu mencium kening anak saya dan berdoa untuknya?”

That’s it. Dan seperti biasa saya lupa menanyakan nama seseorang!!!

[Toni Ariwijaya]
Lakemba, Sydney, NSW. AU.
14 Juli 2017

Perspektif Bahasa . Dahulu mereka menggunakan strategi ‘devide et empera’ untuk memecah Indonesia menjadi kekuatan-kekuatan kecil, sehingga tak bisa berkutik di bawah penjajahan. Kasta sosial pun terbagi-bagi menjadi berbagai golongan. Tidak terlepas pula dalam penggunaan bahasa. Memisahkan istilah warga Indonesia keturunan dan warga pribumi (inlanders). Di zaman sekarang, mereka menyebut kita sebagai ‘immigrant’ yang mencari penghidupan yang lebih layak di negara mereka, sedang mereka sendiri yang juga tak lebih dari sekedar mengais rizki di tanah orang menyebut diri mereka sendiri sebagai ‘expatriate’. Kenapa tidak sama-sama disebut sebagai immigrant atau expatriate? Apakah karena yang satu mempunyai konotasi yang kurang baik sedang yang lain itu sebaliknya? Yah, jahat memang. . . Tapi lebih jahat lagi, bagi saya, ketika ada orang yang menghina seorang pemimpin (gubernur) dan ulama di NTB dengan kata-kata ‘Dasar Indo, Dasar Indonesia, dasar Pribumi, tiko’*. Dan untuk menyampaikan hinaan itu, dia menggunakan Bahasa Indonesia dan tinggal di Indonesia. . . *kronologisnya bisa diakses online, juga arti kata ‘tiko’. #suleymaniyemosque #istanbul #istanblue #istanbullife

A post shared by Lale Fatma Yulia Ningsih (@lalefatma) on