MUTIA(RA) HARI INI

MUTIA(RA) HARI INI

Di tengah menumpuknya tugas, laptop ngadat, presentasi yang menumpuk, saya menerima pesan lewat whatsapp beberapa hari yang lalu berisi permintaan bantuan untuk menemani rombongan mahasiswa S2 dan S3 Groningen-Belanda yang mau berkunjung ke Istanbul-Turki. Disebabkan mereka telah menghubungi beberapa rakan lain tetapi tidak ada yang bisa, akhirnya saya menyanggupi permintaan tersebut.

Singkat cerita hari ini saya menemani rombongan tersebut jalan-jalan di Istanbul. Jam 10 ketika sedang berada dalam Aya Sofia saya menerima pesan via whatsapp “Mbak akan hadir? Ustadz Yusur Mansur mau ketemu”. Masya Allah, saya ingin sekali ketemu Ustadz Yusuf Mansur tapi mau diapakan rombongan 26 orang ini? Tentu saja saya (dan mungkin orang lain juga) akan memilih hal yang sama: tetap menemani mereka sesuai dengan janji. Well, sebenarnya tidak hanya hal itu yang saya lewatkan hari ini, ada salah dua lagi yang saya korbankan: mengunjungi acara 7th International Student Festival in Istanbul dan Diskusi Mingguan RUHUM “The Power of Ethnography And The Study of Muslim Cultures”. Tapi, saya teringat kata-kata adik saya tersayang Lale Yuyun Puspitasari: kamu ada dua pilihan, mengecewakan banyak orang dan mengecewakan satu orang (dirimu sendiri). Ya, saya pilih mengecewakan diri saya untuk tidak mengecewakan 26 orang keluarga dari Groningen.

Dan hadirlah mutia(ra) mungil ini di rombongan tersebut. Saya: “Adik, namanya siapa? Umurnya berapa? SubhanAllah jilbabnya bagus beli dimana?”. Adik: “Mutia, empat tahun, jilbabnya beli di Indonesia”. Karena tidak tega melihat orangtua mutia yang kelihatan kelelahan mendorong stroller, akhirnya saya berkata kepada mutia: “Mutia, sini jalan aja sama kakak ya, biar jadi anak kuat, anak cerdas, pasti mutia bisa”. Dan sejak dimulai percakapan tersebut kami terus saling bergandengan tangan sepanjang jalan dan ia tetap menolak naik stroller walau orangtuanya memaksa. Percakapan kami tak jauh-jauh: bernyanyi, menghitung anak tangga yang kami naiki sampai dengan percakapan mengenai jilbab. “Adik itu rambutnya keluar, diperbaiki yah, kalau pakai jilbab itu rambutnya jangan ada yang keluar”. Sambil tersenyum dia memasukkan rambutnya yang terurai keluar jilbab. Singkatnya, di akhir waktu menemani keluarga dari Groningen saya minta bersalaman dengan mutia tapi ia menolak. Kecewa tentu ada, dan saya tetap meminta untuk salaman dengan mutia, tetap juga cinta saya bertepuk sebelah tangan. Akhirnya saya menyerah dan ibunyapun bertanya “Mutia kenapa gak mau salaman sama Kak Fatma?” dan ia menjawab sambil berbisik kepada ibunya (kalau saya tidak salah dengar): “Mutia sedih pisah sama Kak Fatma”. Seketika itu saya tidak tau mau menanggapi bagaimana. Walau pertemuan dengan Mutia hanya sebentar, kami berdua merasakan hal yang sama bahwa hati kami berdiskusi dengan tulus.

Benarlah bahwa kita mungkin meminta sesuatu dan Allah tolak untuk memberikan sesuatu itu tapi menggantikannya dengan yang jauh lebih baik. Seperti halnya dulu saya meminta sekolah di benua A atau benua B, tapi Allah menolak memberi salah satu dari keduanya. Dan, Allah memberikan saya benua C yang darinya saya bisa ke benua A dan benua B. Begitu pula dengan hari ini; saya mungkin melewatkan mutiara hikmah dari Ustadz Yusuf Mansur dan dari diskusi mingguan RUHUM. Tapi Allah menggantinya dengan ribuan MUTIA(RA) yang jatuh ribuan kali, DIHATIKU.

*Foto: miniatur keramik kincir angin khas Belanda dari keluarga Groningen.

Advertisements

SEBUAH IRONI YANG BERKELANJUTAN: DAYLIGHT SAVING TIME

Tepat di tanggal 27/10/2013 waktu di di negara Turki dimajukan satu jam lebih awal dari biasanya. Memasuki musim panas—yang sebenarnya masih spring—waktu akan dipercepat satu jam. Sedangkan, memasuki musim dingin—yang sekarang sebenarnya masih fall—waktu akan diperlambat satu jam.  Nah, pada hari ini tanggal 27/10/2013 yang terjadi adalah waktu diperlambat satu jam. Artinya bahwa kemarin pada tanggal 26/10/2013 waktu subuh adalah jam 05:54 (hampir jam 6) maka pada tanggal 27/10/2013 (keesokan harinya) subuh akan jadi lebih awal pada 04:55 (hampir jam 5). Satu jam perbedaan.

Artinya bahwa Sholat Dzuhur dilaksanakan jam 11:55 (hampir jam 12). Sholat Ashar jam 14:46 (hampir jam 3 siang). Sholat Magrib jam 17:15 dan Sholat Isha jam 18:35.

Untunglah perubahan waktu ini oleh para ahli sudah di atur dengan sedemikian rupa. Sehingga laptop dan hp dengan sendirinya menyesuaikan. Bayangkan kalau saja ini tidak otomatis. Banyak orang yang mungkin lupa mengatur jam sehingga keesokan harinya telat telat kesekolah, kampus, ataupun ke kantor.

Sebenarnya saya sedang bicara ngalor-ngidul entah kemana. Sebenarnya hal inti yang mau saya bicarakan disini adalah bagaimana SEBUAH IRONI yang saya tulis sebelumnya menjadi SEBUAH IRONI BERKELANJUTAN. Disebabkan oleh perbedaan waktu antara Istanbul-Turki dengan Lombok-Indonesia tepat 6 jam. Ketika saya mengatakan selamat malam, kau disana mengatakan selamat pagi. Oh ya, Selamat Hari Sumpah Pemuda buatmu disana, disini masih 7 jam lagi.  Selamat malam waktu Istanbul-Turki dan selamat pagi waktu Lombok-Indonesia.

TENTANG SEBUAH MUSIM GUGUR

TENTANG SEBUAH MUSIM GUGUR

1. Mau motoin salah seorang teman dengan gaya tiduran di atas daun-daun musim gugur, kayak di film-film. Saya sudah membayangkan nantinya foto ini akan jadi foto fenomenal di facebook berjudul “Istanbul Fall 2012”. Ketika saya sudah siap mau ambil foto, teman tadi nyeletuk “Eh, ada tai anjing gak ya? Di Indonesia kan banyak tai anjing kalau ada tumpukan daun kayak gini”. Saya terdiam gak tau mau jawab apa. HERAN. _FALL 2012_ #Lale

2. Saya memilih ngambil foto sederhana saja, cukup sebagai kenang-kenangan ketika saya tua nanti. Kenangan bahwa saya pernah berada di negeri yang sangat jauh. Saya kemudian mengambil sehelai daun musim gugur dan saya tuliskan “Lale Fatma Yulia Ningsih, Fall, October 2012”. Dan ketika saya tua nanti saya akan berkata pada mereka “NaK, ini salah satu contoh daun musim gugur di negeri nun jauh disana, tidakkah kau ingin melihat keindahan musim gugur? Kalau ia, pergilah, selagi kalian masih ada umur, selagi kalian masih muda, lihatlah dunia”. BERJALANLAH. _FALL 2012_ #Lale

3. Ketika saya berjalan di jalanan sekitar kampus, angin bertiup kencang meniup daun-daun. Beberapa daun jatuh di depan saya, saya ngerasa seperti di film-film romantis barat. Pemeran ceweknya lagi asik dengerin musik sembari melihat dedaunan gugur, eh tiba-tiba ada cowok nabrak, dan jreng [sambil ada background music]; Love at the first sight. Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin saya bicarakan. Saya sedang berpikir tentang tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan sepengetahuan Tuhan. Dan di tengah jalan saya bertemu dengan seorang ibu-ibu berwajah Indonesia, karena saya malu saya tak menyapa ibu tadi. Jalan menuju asrama saya terus berpikir setelah melihat kotoran burung di jalanan Istanbul; “tak ada satu kotoran burungpun yang jatuh kecuali atas sepengetahuan Tuhan, kalaupun jatuh di atas kepala orang, pasti itu teguran atau cobaan”. Beberapa saat setelah itu, saya berasumsi bahwa teguran Allah telah datang karena saya tak menegur ibu tadi; kotoran burungpun hinggap di jilbab manis saya hari ini. ASIN! _FALL 2012_ #Lale

4. Saya pandangi daun yang di atasnya saya tulis nama saya tadi. Saya merinding, teringat bahwa salah satu tanda kematian adalah bagian pusar kita akan berdenyut di waktu asar; ketika itu daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pohon yang letaknya di Ars Allah SWT. Bukankah tadi saya baru saja menuliskan nama saya di salah satu daun musim gugur? NGERI. _FALL 2012_ #Lale

NEGERI YANG DIANTARANYA MENGALIR DUA SUNGAI

Photo: Sungai Eufrat dan Kota Urfa. Sumber: anadolujet.com

Photo: Sungai Eufrat dan Kota Urfa. Sumber: anadolujet.com

Empat ribu tahun sebelum masehi, ada sebuah negeri yang terletak nun jauh dari Nusantara. Sebuah negeri yang dipercaya sebagai tempat dimana peradaban tertua didunia. Peradaban yang usianya lebih tua dibanding dengan peradaban yang ada di Mesir ataupun yang ada di Yunani. Peradaban dimana manusia saat itu mulai menetap di suatu daerah dan meninggalkan kebiasan hidup nomaden.

Empat ribu tahun sebelum masehi, ada sebuah negeri yang terletak nun jauh dari Indonesia. Sebuah negeri yang didambakan setiap kafilah manusia yang melintas, sehingga tak jarang serangan demi serangan mengancam negeri ini. Sebuah negeri yang hidup dengan penuh kemakmuran dari air yang berlimpah ruah. Sebuah negeri yang diantaranya mengalir dua sungai seperti namanya: ‘Meso’ [Yunani: tengah], dan ‘Potamia’ [Yunani; sungai].

Empat ribu tahun sebelum masehi, negeri subur nan makmur ini didiami oleh Bangsa Sumeria, Akkadia, Amori [babylonia], Assyria, sampai dengan Bangsa Aramak yang merupakan keturunan Nabi Nuh As. Negeri ini sungguh kaya akan kekayaan alam, juga kaya dengan peradaban. Tapi sayang bangsa-bangsa ini adalah bangsa penyembah berhala. Tak terhitung berapa berhala yang mereka sembah. Sebut saja dewa langit, dewa bumi dan dewa air semasa Bangsa Sumeria. Semasa Bangsa Akkadia mereka menyembah dewi venus dan dewa api. Apalagi Bangsa Amori yang terkenal dengan ‘Codex Hammurabi’ mereka punya banyak sekali dewa; dewa langit, dewa air, dewa bumi, dewa matahari. Sedang Bangsa Assyria juga mengikuti faham yang sama.

Marilah untuk tidak membahas bangsa pagan ini. Mari kita beralih ke sebuah wilayah yang disebut Mesopotamia dimana Nabi Ibrahim diwahyukan oleh Tuhan Semesta Alam dalam menyeru mereka untuk menyembah Tuhan Yang Satu. Di zaman modern ini, Mesopotamia terletak antara kota Urfa dan Diyarbakır.

Di kota Urfa ini ada sebuah kolam yang berisi ikan yang disebut ‘sacred fish’. Sacred fish ini dipercaya sebagai jelmaan bara api. Bara api yang dulu digunakan oleh Raja Namrud untuk membakar Nabi Ibrahim, tapi ketika Nabi Ibrahim berdoa api tersebut menjadi dingin. Dan orang dikota ini percaya bahwa bara api tersebut menjelma menjadi ikan-ikan yang sekarang ada di kolam tersebut.

***

Kemudian mari kita berjalan menuju sungai yang sangat spesial, sungai Euphrates/Efrat. Tapi sebelum kita membahas tentang sungai ini ada baiknya kita membaca cuplikan dialog tentang Sungai Nil, sungai yang setara spesialnya dengan sungai Eufrat.

Maria   : “Fahri”

Fahri    : “Maria… Sebelum aku kesini, cuma ada dua hal yang bikin aku kagum sama mesir. Yaitu Al-Azhar dan Sungai Nil. Karena tanpa sungai Nil gak ada Mesir dan gak ada Al-Azhar”

Maria   : “Aku juga suka sungai Nil. Kalau gak ada sungai Nil pasti gak ada Mesir, gak ada peradaban yang ada hanya gurun pasir. Kamu percaya jodoh Fahri?”

Fahri    : “Ya, setiap orang memiliki…”

Maria   : “Jodohnya masing-masing. Itu yang selalu ka

mu bilang. Aku rasa sungai Nil dan Mesir itu jodoh. Seneng ya, kalau kita bisa bertemu dengan jodoh yang diberikan Tuhan dari langit”

Fahri    : “Bukan dari langit Maria, tapi dari hati, dekat sekali”

Bukan dari langit Lale, tapi dari hati dekat sekali. Bukan dari langit Lale, tapi dari negara itu dekat sekali. Aku juga ingin berjodoh bertemu denganmu wahai sungai. Sungai yang mempesona secara rahasia.

***

Setelah sedikit jalan-jalan sekitar 900 km, mari kita kembali lagi menuju Mesopotamia, peradaban tertua didunia. Dan yang paling penting adalah sungai Euphrates. Sungai di dunia yang disebutkan sebagai sungai surga layaknya juga seperti Nil. Inilah beberapa hadist yang menerangkan bagaimana spesialnya sungai Eufrat ini.

“Aku dinaikkan ke Shidratil-Muntaha di langit ke tujuh. Buahnya seperti kendi yang indah, dan daunnya seperti telinga gajah. Dari batangnya keluar dua sungai dhahir dan dua sungai batin. Kemudian aku bertanya, “Wahai Jibril, apakah keduanya ini?” Dia menjawab, “Adapun dua yang batin itu ada di surga sedangkan dua yang dhahir itu adalah Nil dan Eufrat.”

[HR. Anas bin Malik]

“Sihan, Jihan, Eufrat dan Nil, semua adalah dari sungai-sungai surga.” [HR. Imam Muslim].

“Hari Kiamat tak akan terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering dan menyingkapkan ‘Gunung Emas’ yang mendorong manusia berperang. 99 dari 100 orang akan tewas (dalam pertempuran), dan setiap dari mereka berkata,  ‘Mungkin aku satu-satunya yang akan tetap hidup’.’’ (HR Bukhari).

Dan peradaban Mesopotamia, sebuah negeri dimana Nabi Ibrahim diutus dan sebuah negeri yang diantaranya mengalir dua sungai itu terletak di sebuah negara yang bernama: TURKI.

—tamat—

Note: tulisan ini saya persembahkan untuk adik-adik tersayang ‘The Lost Atlantis Warrior’. In sha Allah suatu hari kita akan kesana, baik itu Eufrat maupun Nil. Aamiin.

AH!

  1. Hari ini sepulang dari kampus, saya melewati seorang bapak tua yang menjajakan aksesoris-aksesoris perempuan. Ia gunakan jaket tebal untuk melawan musim dingin. Ah, diluar sana banyak sekali orang yang kesusahan mencari sekedar beberapa lira apalagi untuk bersekolah. Ah, ternyata saya sungguh sangat rapuh, terlalu manja dengan buaian fasiltas orang tua yang juga tak seberapa. Ah, ternyata saya TAK TANGGUH.
  2. Setelah Allah menampakkan Pak Tua Penjual Aksesoris, kini aku melihat segerombolan anak-anak SMP.
    SMP-1: Tasku berat banget!
    SMP-2: Emang isinya apa?
    SMP-1: Ini nih, ibuku naruh makanan banyak banget, sampe berat.
    Ah, ternyata ibu di belahan bumi manapun punya tipe yang sama: penyayang. Mereka rela bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan, dan terkadang mereka juga lupa sarapan. Ah, memorikupun berkelana menuju tahun-tahun yang lalu, berkelana menuju ribuan mil ke sebuah negara kepulauan, mendarat di sebuah pulau dekat Bali bernama LOMBOK. Disana ada seorang ibu yang senantiasa setiap paginya menyediakan sarapan sampai ia terkadang lupa bahwa ia hanya sempat menyeruput teh hangat. Tak lupa pula ia sediakan air panas untuk anaknya yang satu ini mandi. Jujur saja, saya itu adalah orang yang termasuk tipe yang males mandi, apalagi kalau dingin. Jadi orangtua sayalah yang mengalah agar tak jatuh muka mereka di hadapan orang tua murid yang lain. Simak khayalan saya diawah ini. OTM [Orang Tua Murid].
    OTM-1: Anakn saehkh nyak, kebaihn [Sasak: anak siapa ini ya, bau amat]
    OTM-2: Bijean Gede Patrah” [Sasak: anaknya Gede Patrah].
    Nah tentu saja orang tua saya tak mau menaggung malu seperti itu. Jadilah saya mandi pagi dengan air hangat. # evilish eye. Haha.
    Ah, bahwa ternyata kata-kata mereka benar: “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan. Ah, ternyata saya rindu padamu IBU.
  3. Jarak beberapa menit dari kejadian kedua, saya melewati sebuah halte bus.  Kemudian ada salah satu ibu berkata ke ibu lainnya.
    Ibu-1: Coba lihat, waduh cara pake kerudungnya bagus sekali, subhanAlllah
    Saya: [berlalu cuek saja pura-pura tak mengerti]
    Padahal sudah melayang kemana-mana rasanya. Saya juga teringat suatu hari saya baru selesai sholat di Masjid Sulaiman. Ada dua orang ibu-ibu Turki terus saja menatapku sambil tersenyum dan bilang “SubhanAllah, lihat tuh cara berkerudungnya bagus sekali”. Saya juga pura-pura tak mengerti apa yang mereka katakan dan berlalu dengan gaya cool. Ungtunglah mereka tak melihat tas saya bertuliskan “Istanbul Sehir University”. Ah, ternyata pujian ibu-ibu tersebut membuat saya sedikit—kayaknya banyak—narsis, sehingga akhir-akhir ini saya sering senyum-senyum sendiri di dpan cermin. Ah, ternyata saya NARSIS.