IA YANG TAK BERDETAK

“Dua Garis” [08/05/2015]

Suami tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dua test pack yang menunjukkan tanda positif masih membuatnya belum percaya kalau saya tengah hamil; sebab tak ada mual, tak ada permintaan berbagai macam hal yang mencirikan orang hamil. Tapi suami dan saya sungguh sangat bahagia, it’s just too good to be true.

Baby boy kami memanggilnya, karena menurut suami, kalau janin tak rewel maka yang akan hadir adalah anak laki-laki. Kami pun telah menyediakan nama baginya. Sebuah nama dari bahasa Persia, Turki, Pakistan dan juga China yang berarti pemimpin jujur yang berfikir dan bertindak secepat kilat (cerdas dan tangkas) nan sukses dalam pengembaraannya.

Test Pack Pertama dan Kedua

Test Pack Pertama dan Kedua

***

“Detak Perdana” [25/05/2015]

“We almost burst into tears” adalah sebuah tulisan singkat yang ingin saya post di salah satu media sosial sesaat setelah keluar dari ruang periksa dokter kandungan di Denpasar Bali. Tapi sesat kemudian niat itu saya urungkan, biarlah ia menjadi kenangan tersendiri di hati kami. Sepanjang jalan balik menuju kos kami lebih banyak terdiam, kami larut dalam khayalan masing-masing dan dalam kebahagian yang tak terhingga.

Baby Boy

Baby Boy

***

“Pulang, Demi Baby Boy” [03/06/2015]

Dengan menggunakan obat penguat kandungan saya mengelus baby boy sambil tilawah agar ia kuat naik pesawat—lagi—karena ketidakmampuan ibunya bertahan atas bau-bau dupa yang berseliweran selalu di Bali. Baby boy, kita pulang.

***

“Ia yang Tak Berdetak” [01/06/2015]

“Saya ada kabar buruk ini mbak, janinnya tak ada detak jantungnya”. Setelah itu saya tak ingat apa-apa lagi yang diucapkannya. Segala kata dari dokter kandungan tersebut mental bagai air yang jatuh di daun talas.

Yang saya ingat hanya satu hal, mengabarkan hal ini kepada suami: “Dad, mom just went to the doctor to see my growth. Doctor said, I have no heartbeat inside here. Doctor suggested that I should take another USG check next week. If my condition is just the same, they will take me out from mom’s womb. Please do pray for me for this critical 7 days. Love you dad!”

Kami telah siap apapun yang terjadi, meskipun ia bertahan dan akan menjadi anak yang spesial. Kami telah siap dengan semua kemungkinan yang ada. Itulah kesimpulan percapakan kami yang panjang. Mungkin inilah takdir Allah, suami mendapatkan beasiswa untuk pasca sarjana di bidang special education. KAMI SIAP DENGAN SEGALA KEMUNGKINAN!

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Baby Boy Tak Berdetak

***

“Kami Tempuh Segala Cara” [04/06/2015]

Atas saran dari beberapa teman, saya kemudian mencari dokter lain untuk check ulang, bahkan kalau perlu sampai 2-3 kali lagi. “Kita cari dokter lain, second opinion, KITA TEMPUH SEGALA CARA!!!”

RSIA P*rm*t* h*t* adalah RSIA yang dianggap paling bagus di Mataram yang disarankan beberapa kawan, tapi pemeriksaan menunjukkan hal yang sama “dead conceptus”. Bahkan dokter senior ini mengatakan bahwa janin telah tak ada lama semenjak saya masih di Bali. Semenjak ia baru berusia 1.5 bulan. Dokter menyarankan saya harus dikuret lusa agar tak terjadi infeksi.

Dalam perjalanan pulang, saya kembali bertekad memeriksakannya ke dokter lain. KAMI TEMPUH SEGALA CARA!

Baby Boy "Dead Conceptus"

Baby Boy “Dead Conceptus”

***

“Sakit Yang Tak Terkira” [05/06/2015]

Sesaat sebelum berbuka puasa, saya kembali menghebohkan seisi rumah, pendarahan terjadi, saya harus segera dikuret. Bahkan dikuret dokter laki-laki. Tak ada pilihan lagi untuk dokter perempuan, dokter perempuan tersebut adalah dokter yang pernah menangani salah seorang akhwat dan nyawa akhwat tersebut tak tertolong. Suami tak mau ambil resiko. Sedang kalau saya dibawa ke Mataram, kondisi saya akan semakin buruk. Keputusan telah diambil: dokter yang menangani saya adalah dokter yang setiap Selasa dan Jum’at praktik di rumah! Dokter laki-laki yang selalu saya hindari!

Dalam sakit yang tak terperi saya berdoa agar kelak, suatu saat nanti salah satu anak perempuan saya menjadi dokter kandungan.

***

“And to HIM Belongs All Things” [05/06/2015]

Sedetik setelah obat bius berkerja—proses setengah jam terasa sedetik—saya terbangun dan gerakan reflek mengelus perut yang telah rata. Perasaan sungguh tak menentu, namun hidup untuk terus berjalan; sesaat setelah pengaruh obat bius hilang saya melayani pemesanan jilbab dan pashmina Turki, merespon pemesanan buku amatiran kami dari FLP Turki. Dan, pesan dari suami membuat saya tertegun “You and I, we are resilience couple, we are stronger than a pinnacle of rocks. I was crying but now I am not. Jangan dipikirkan apa-apa yang telah diambil dari kita. In sha Allah akan ada ganti yang lebih baik. Mungkin selama ini kita masih perlu belajar ilmu ikhlas”.

Berbagai hal bergelanyut dalam pikiran hingga tak bisa tidur, saya lantas mencari channel yang bisa mengusir kebosanan. Sebuah channel sedang menayangkan sholat isya live dari Mekah dan terjemahan pertama yang saya baca dalam salah satu rakaat imam tersebut adalah “AND TO HIM BELONG ALL THINGS”

Bahwa kami juga suatu saat nanti akan kembali. Allahu Akbar. Ya Allah. Kami ikhlaskan baby boy………..

Mengikhlaskan Baby Boy

Mengikhlaskan Baby Boy

Note: beberapa kejadian menyedihkan saya hapus, biarkan ia menjadi kenangan saya dan suami.

Advertisements

7 thoughts on “IA YANG TAK BERDETAK

  1. musayka says:

    Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun. Semoga menjadi Celengan Surga.

    Gak ada yang perlu disesali, hidup itu terus berjalan. Maka dari itu ada pelajaran dari apa yang terlewati dan akan ada tantangan pada apa yang kan dilewati. Tetap semangat Le! Mus turut berduka

  2. “The greatest reward comes with the greatest trial. When God loves a people, He tests them. Whoever accepts this, wins His Pleasure.” (Al-Tirmidhi)
    All the best mba Lale
    화이팅!

  3. And to Him belongs all thing
    Stay strong Mama, Allah knows the best.

  4. izzatunnisa says:

    mba baru baca hari ini setelah off lama fb. mba, maafin aku yang lalai sbg saudara… semoga segala kebaikan untuk keluarga mba… doakan kami juga ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s