SIKAT GIGI YANG MANDIRI

SIKAT GIGI YANG MANDIRI

Sumber photo: ishotthat.blogspot.com

SAYA sebenarnya sedikit benci dengan ide menulis yang datang tiba-tiba. Terkadang ide itu datang ketika saya sedang asik-asiknya menulis tugas kuliah. Terkadang malah ide itu muncul ketika saya sedang sikat gigi! Iya, hanya karena sikat gigi. Sikat gigi yang membawa saya berkelana kembali ke masa lalu.

***

Pagi ini ada penyuluhan tentang kesehatan gigi disekolah oleh P*ps*d*nt dan PDGI. Masing-masing siswa harus membawa sikat gigi ke sekolah. Untunglah gak perlu bawa odol juga, kalau iya bisa marah-marah Inaq [suku sasak: ibu] dan ngomel-ngomel menyebut guru kami KKN. Saya masih ingat dulu ketika SD, guru-guru sering menugaskan kami untuk membuat sapu lidi dan dikumpulkan sebagai nilai mata pelajaran Kerajinan Tangan. Beralasan juga ibu saya mengatakan seperti itu, karena hitung saja berapa jumlah siswa perkelas, misalnya kelas saya waktu itu ada 23 orang. Jadi ada 23 buah sapu lidi. Akan diapakan sapu lidi sebanyak itu? Untuk piket bersih kelas, paling banter kami membutuhkan 5 biji sapu lidi, karena tiap harinya hanya 5 biji yang terpakai. Selebihnya? Mungkin dibawa ke rumah guru tersebut. Kali ini saya bilang ‘Wallahu’alam bishawab’.

Saya juga tidak menyalahkan kalau seandainya ada guru seperti itu. Di zaman saya dulu, guru SD gajinya tak seberapa—setelah saya beranjak dewasa baru saya mengetahui bahwa pemerintah ternyata tidak terlalu memperhatikan kesejahteraan guru. Salah satu guru SD saya dulu adalah langganan ibu saya di pasar. Beliau sering mengeluh tentang gaji yang sedikit, jadilah ibu saya berbaik hati memberikan diskon harga sayur. Kalau saya pikir tak apalah guru saya berbuat seperti itu—maksud saya membawa sapu lidi tersebut untuk digunakan dirumah. Toh, kalau didiamkan di sekolah juga akan jadi barang mainan kami; menjahili teman sebangku, dijadikan tusuk sate ketika kami main masak-masakan, dan lain sebagainya. Nah, begitulah sejarah ibu saya sering ngomel-ngomel tentang guru kami yang KKN—padahal hanya sapu lidi. Kadang-kadang saya berpikir bahwa ibu saya terlalu mendramatisir keadaan atau mungkin karena ibu saya tau bagaimana susahnya cari uang.Ya mungkin saja.

Balik lagi ke isu penyuluhan gigi. Subuh-subuh saya sudah sibuk mengurus sikat gigi saya ini. Sikat gigi saya waktu itu sudah tua sekali, maklum jatah kami berganti sikat gigi hanya sekali setahun—yang idealnya sikat gigi diganti 3 bulan sekali. Bulu sikat gigi saya sudah meluber kemana-mana. Jadi sebelum berangkat kesekolah saya harus memperbaiki sikat gigi saya terlebih dahulu. Kebayang kan bagaimana memperbaiki sikat gigi? Silahkan membayangkan sendiri dah.

Seperti biasanya, mereka memperagakan bagaimana cara menyikat gigi yang baik, kemudian kami mempraktikkannya diluar, syukur teman-teman saya tidak terlalu memperhatikan sikat gigi saya, mereka sibuk dengan adegan menyikat gigi yang baik dan benar. Sibuk menarik perhatian dokter-dokter gigi yang cantik dan ganteng. Sedang saya sibuk menyembunyikan sikat gigi saya yang buruk rupa dibalik mulut saya. Untunglah.

Sesi terakhir penyuluhan ini sebenarnya yang saya tunggu-tunggu, sesi pertanyaan dengan hadiah yang menggiurkan. Saya berdoa semoga saja hari ini saya yang beruntung mendapatkan hadiah tersebut. Saya sudah tegang mendengar pertanyaan yang dibacakan. “Lapisan terluar gigi disebut?”
Dengan cekatan saya angkat tangan, sebelum kesempatan diambil orang. Saya sempat celingak celinguk kiri kanan, dan hanya saya sendiri yang angkat tangan. Ternyata ada juga manfaatnya saya khusuk menyimak penyuluhan gigi untuk menyembunyikan sikat gigi yang buruk rupa selagi teman yang lain sibuk memamerkan sikat gigi mereka. Singkatnya, saya hari ini pulang sekolah dengan riang gembira; membawa dua sikat gigi warna biru dan warna kuning. Kuning buat saya dan yang biru buat adik saya. Akhirnya kami punya sikat gigi yang baru, tidak harus menunggu enam bulan lagi.

–tamat—

***

DAN, ketika saya menyikat gigi hari ini, di negara lain. Hari ini saya bangga, kalau diingat-ingat, inilah hari pertama saya merasa bangga terhadap diri sendiri yang sebelumnya sangat pesimistis melihat teman sekelas saya yang otaknya canggih-canggih, yang ngomong bahasa inggris selancar minum air. Hari ini saya bangga hanya karena SIKAT GIGI; bahwa hari ini saya tidak lagi bergantung pada orang tua untuk membeli sikat gigi yang baru. Bahwa hari ini, dengn uang yang saya punya, saya bisa membelikan ratusan sikat gigi yang baru untuk mereka—meskipun dari uang beasiswa dan uang jadi guide di Istanbul.

Hasan Al-Banna pernah merumuskan 10 kunci kualifikasi manusia pembangun peradaban, salah satunya adalah mandiri secara ekonomi—selebihnya silahkan cari dengan ’10 muwashofat tarbiyah’. Jadi kalau kita tak mandiri secara ekonomi, jangan bermimpi untuk menjadi salah satu diantara para manusia pembangun peradaban sekelas Saifuddin Qutuz ataupun Muhammad Al-Fatih. Selamat mempersiapkan diri menjadi manusia pembangun peradaban dimanapun kita berada.

Advertisements