Jumat di Australia #1: Identitas

BOWRAL.jpeg

 
Sydney, 06.01.2017
 
Sedikit memutar waktu ke sebuah kenangan akan perkuliahan di University of New South Wales (UNSW). Sore itu dengan semangatnya suami bercerita bahwa di kelas terakhir perkuliahan ‘Intellectual Dissabilities’ beliau mengucapkan terima kasih atas ilmu yang telah banyak beliau terima di kelas tersebut. Tak lupa juga suami mencium tangan dosennya (tepatnya metakkan tangan dosen tersebut ke kening suami). Lalu hal itu membuatnya berkaca-kaca “Why toni?”. Suami pun berujar ”It’s a custom in Indonesia through which student show their gratitude and respect by putting their teacher hand on their forehead”
 
Sayapun heran kenapa suami harus melakukan itu, mereka aalah orang yang lahir dan besar di dunia Barat, mengapa harus kita perlakukan dengan budaya orang Indonesia? Dan ah lagi-lagi, suami saya menampar dengan kata-kata. “Kita boleh sekolah diluar, mengecam pendidikan di luar. Tapi jangan lupa, kita adalah pelajar yang membawa nama Indonesia. Karena satu-satunya yang bisa kita banggakan disini adalah identitas. Jangan sampai kita kuliah diluar negeri kemudian kita kehilangan identitas kita. Jangan”
 
***
 
Malamnya, sayapun juga masuk ke perkuliahan terakhir di semester genap 2016 di mata kuliah ‘Linguistic Approaches to Spoken English’. Setelah mengucapkan kata-kata perpisahan: “I hope the best for your future”, sedikit demi sedikit mahasiswa lainnya meningalkan kelas perkuliahan. Saya memberanikan diri menghampiri dosen itu dan mencium tangannya. Reaksinya pun sama dengan dosen suami: matanya berkaca-kaca.
Saya tak tau kesan dosen itu terhadap apa yang saya lakukan, tapi saya menyaksikan bagaimana senyum dan tatapan matanya di hari-hari perkuliahan sebelumnya, tak pernah seberbinar malam itu.
 
Mungkin cara ini terlihat sedikit nggak zaman, tapi inilah cara kami untuk terlihat berbeda dengan mahasiswa internasional lainnya. Seperti salah satu stasiun kereta di daerah Bowral yang masih dioperasikan manual (tidak ada campur tangan tehnologi canggih didalamnya). Tapi justru itulah yang membuatnya berbeda.
 
Catatan: pelajar Indonesia di negara manapun mempunyai cara masing-masing untuk tetap menjaga identitas mereka, adapun cerita diatas adalah cara kami untuk menjaganya. Cumanız mübarek olsun. Jumma Mubarak. Salam. TA dan LFYN.

 

KEKASIH BARU: GE

KEKASIH BARU: GE (baca: Ji)

Sumber Photo: Koleksi Pribadi

SUATU hari dalam perjalanan menuju desa yang sangat terpencil di pelosok pulau Lombok, saya pernah terlibat diskusi yang cukup menarik bersama pimpinan saya yang berkewarganegaraan America tapi keturunan Cina—bahasa populernya: Chinese American. Sebagai seorang asisten yang merangkap interpreter saya dituntut bekerja multi-tasking, begitu-pun dengan pimpinan saya: contohnya saja yang terjadi pada hari itu ketika seorang supir berhalangan masuk kantor. Jadilah ia mengendarai sendiri mobil untuk berkunjung ke lapangan yang menjadi agenda rutin setiap minggunya. Seperti yang saya sebutkan tadi bahwa hari itu kami menuju desa terpencil di daerah Kabupaten Lombok Utara. Daerah ini sebenarnya terletak di ujung Kabupaten Lombok Utara dan sangat dekat dengan daerah Kabupaten Lombok Timur. Sungguh, demi Allah banyak sekali pemandangan indah yang belum diketahui masyarakat Lombok—apalagi masyarakat Indonesia. Dan sesekali kami berhenti untuk memfoto objek-objek indah ini. Dan pada suatu menit di hari itu saya berkata.

Saya: “Andai saya punya kamera sendiri, pasti saya sudah mengumpulkan banyak foto-foto yang indah”
Lee: “Fatma, momen itu terkadang tidak perlu untuk diabadikan menjadi gambar, indahnya cukup kau kenang di dalam hati”
Saya: Iya tapi setidaknya saya bisa menunjukkan gambar tersebut kepada teman-teman saya, bahwa ada suatu daerah di Lombok ini yang indahnya tak terkira”
Lee: “Fatma, kamu tidak mengerti bahwa alam dan gambar itu sangat berbeda, ketika kamu mencoba memindahkan alam ke dalam sebuah gambar ada sesuatu yang kamu rusak: kamu telah merusak sesuatu yang disebut pengalaman. Dengan memperlihatkan gambar tersebut kepada temanmu yang dia lihat hanya gambar, dia tidak bisa merasakan pengalaman yang sama seperti pengalamanmu melihat langsung objek tersebut. Jadi, momen itu cukuplah kau kenang di hati”

Saya pun terdiam tak tau harus menjawab apa, saya sebenarnya mengamini perkataan pimpinan saya tadi tapi saya masih berpagang teguh pada pendapat saya yang tadi. Saya sebenarnya heran kenapa pimpinan saya yang seorang diver bersertifikat internasional dan lulus jurusan ekonomi bisa berbicara begitu dalam seperti itu.

***

Bulan September ketika mengikuti kuliah pertama tentang teori puisi, saya sangat heran ketika dosen saya ini menjelaskan tentang teori proses penciptaan puisi oleh pujangga yang sebenarnya menghancurkan esensi benda asli-nya. Ketika seorang pujangga mengubah sebuah objek menjadi sebuah rangkaian kata-kata, sebenarnya pujangga tersebut telah merusak objek aslinya karena ada sesuatu yang hilang di puisi tersebut: sebuah pengalaman. Pengalaman yang tidak akan pernah dirasakan oleh pembaca, pembaca hanya bisa melihat kata bukan melihat objeknya langsung.
Saya sangat heran betapa teraturnya sebenarnya kehidupan ini diatur oleh Tuhan Semesta Alam. Teori yang saya dapatkan bertahun-tahun lalu kini saya dengar kembali. Bedanya saya dulu mendapatkan teori ini dari seorang adventurer kelas kakap yang telah mengunjungi banyak negara dan telah merasakan berbagai rasa dunia dan mempunyai gelar pendek, teori lainnya saya dapatkan dari seorang dosen yang telah membaca berbagai buku dunia dan bergelar sangat panjang.

***

Saya kini menyadari bahwa ilmu itu bisa kita dapatkan dari mana saja dari orang yang bergelar pendek maupun yang bergelar panjang bahkan bisa jadi orang yang bergelar pendek tersebut lebih tau banyak—karena ia telah merasakan berbagai rasa dunia.

***

Izinkan saya bercerita tentang kekasih baru saya. Ketika pertama kali bertemu saya menganggapnya biasa-biasa saja, bahkan ketika seorang pelayan toko itu memperkenalkannya pada saya, saya cuek saja memperhatikan barang-barang di toko tersebut. Tapi kemudian takdir mempertemukan kami dengan tak sengaja dan jadilah pada tanggal 11.12.13 aku menerimanya. Tidak sepenuhnya saya menerima dia yang apa adanya, saya membutuhkan seorang kekasih yang elegan seperti orang-orang. Kekasih yang kapasitasnya jauh diatas rata-rata. Hal-hal itu tidak saya dapatkan padanya yang serba sederhana, dan jujur saja saya menyesal menerima dia menjaid kekasih saya.

Sampai pada suatu hari saya menceritakan permasalahan saya kepada teman sekamar saya. Ketika ia saya perkenalkan kepada teman sekamar saya, mata teman saya berbinar-binar seolah melihat hal yang sangat luar biasa. Saya terheran-heran kenapa teman saya sampai sebegitu bahagianya melihat kekasih saya itu.

Khan: “Fatma I can’t believe, what I see in front of my eyes is GE right?”
Saya: “Yes, it’s GE, why?”
Khan: “How much it cost you?
Saya: “Only 200 lira and I regret buying this camera, the brand from nowhere”
Khan: “Oh, Fatma it’s very good electronic brand from Germany! They are very famous Fatma. And you are so lucky to get this well-known brand camera for only 200 lira!”

Saya menyesal telah underestimate kekasih saya yang baru: kamera GE. Ternyata kamera ini adalah kamera merek terkenal yang dibuat di Jerman. Kesimpulannya adalah bisa jadi sesuatu itu buruk dimata kita tapi sangat berharga dimata orang lain. Hal ini terjadi bukan hanya karena kita tidak pandai bersyukur tetapi juga karena kita tidak pandai membaca dunia: seperti saya yang tak tau bahwa GE adalah sebuah brand terkenal dari Jerman.

***

Selamat datang dalam hidupku GE, kita akan mengabadikan momen-momen penting itu bersama. Bukan karena saya ingin menghancurkan objek aslinya seperti teori yang dikemukakan dosen itu tapi karena saya ingin suatu hari nanti ketika usia memakan ingatan saya engkau akan menjadi pengingat bahwa Tuhan Semesta Alam telah memberikan saya kebahagiaan yang tak terhitung jumlahnya. Sehingga saya terhindar dari menjadi manusia yang kufur akan nikmat. Salam sayang untukmu GE (baca: Ji).

Istanbul 11.12.13
Hari dimana kamu menjadi kekasihku dan juga hari dimana kau menemaniku mengabadikan momen badai salju diantara dua masjid: Aya Sofia dan Blue Mosque.

Gambar GE dari dekat:

Salah satu gambar yang menggambarkan sisa-sisa musim gugur yang masih bisa dilihat di musim dingin yang diabadikan oleh GE:

Sumber Photo: Koleksi Pribadi

Sumber Photo: Koleksi Pribadi

UNSEEN: TAK TERLIHAT

UNSEEN

Photo: Aya Sofia with snow storm 11.12.13

English Version:

Have you ever seen snow grains falling down into the sea? Have you ever seen billions of billions snow grains falling down into the Bosporus? If not let me tell you: those billions of billions snow grains sincerely accept the fate to be fallen into the Bosporus and turn into water despite the fact that they will be unseen. I also sincerely accept my fate to fall into you billions of billions time even if I will be unseen to you like yesterday and the day before yesterday: still.

Indonesian Version (Edisi Yang Nyastra Abis):

Pernahkah kau melihat butiran salju jatuh mendarat di lautan? Pernahkah kau melihat triliunan butiran salju mendarat di atas Bosporus? Cinta tak berbalas itu seperti butiran-butiran salju yang mendarat merengkuh laut selat Bosporus itu. Sebanyak apapun salju yang jatuh, ia akan mencair dan menghilang: ia bukan lagi salju. Ia kini menjadi sesuatu yang tak terlihat. Begitu juga denganku dihadapanmu, sebanyak dan sesering apapun aku hadir dihadapanmu, aku tetap tak telihat.

Istanbul 11.12.13

Photo: Sultan Ahmet-Blue Mosque when snow storm hit Istanbul

Photo: Sultan Ahmet-Blue Mosque when snow storm hit Istanbul

ROOM-MATE

SNOW 11.12.13 10

Me and my room-mate on the first day of snow 11.12.13

 

English Version:

A good room-mate  is someone you really miss when she is away from your side and you feel the room is empty without her.

Bahasa Indonesia Version:

Teman kamar yang baik itu adalah seseorang yang kau rindukan ketika ia tak ada disampingmu dan kamar terasa hampa tanpa kehadirannya.

CINTA

Entah kenapa saya tiba-tiba membuka youtube dan tergerak untuk memutar lagu Cherry Belle yanng berjudul “Love Is You”.
***
Sudah beberapa hari ini kurang tidur, hasil dari mengerjakan lomba, terlibat di kepanitian acara, menemani teman yang harus keliling Istanbul. Lari-lari, menunggu, menjelaskan, mengetik sampai pagi seperti ini sepertinya tak bisa lepas dari hidup saya. Sembari mengetik paper lomba untuk business plan saya lihat beberapa barang yang seharusnya saya mulai bungkus, karena besok akan bertemu orang yang akan mengantarkan barangnya sampai menyebrangi beribu-ribu mil ke Riyadh. Putus asa dengan otak yang macet akhirnya saya memulai membungkusnya satu persatu, sembari menanti ide yang mungkin saja muncul. Saya mulai menuliskan nama-nama mereka satu persatu. Saya juga sebenarnya bingung, kenapa saya melakukan ini, padahal saya hanya mengenal mereka lewat dunia maya. Mungkin inilah yang disebut dengan cinta. Ukhuwah karena Allah. Semoga cinta yang saya tebarkan kepada orang-orang berbalas dengan kasih sayang orang-orang kepada orangtua yang telah merawat saya sedari kandungan. Dari Anas bahwa, “Hendaklah kamu saling memberi hadiah, karena hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati.” (Thabrani)
***
Dan terjaga sampai pagi untuk mengerjakan sesuatu juga karena cinta, tidak tidur juga karena cinta. Ah saya sudah mulai ngelantur sepertinya.

#Sekedar sebagai pengingat peristiwa hari ini. Selesai ditulis tanggal 01.05.2013 jam 06:11 A.M

2013-05-01 05.37.55 2013-05-01 05.38.28 2013-05-01 05.39.09 2013-05-01 05.39.49 2013-05-01 05.40.30 2013-05-01 05.47.08 2013-05-01 05.48.00 2013-05-01 05.48.32 2013-05-01 06.02.05 2013-05-01 06.02.24