GRANDE RUE DE PÉRA: JALAN BARU

Spoiler: Sebuah novel tentang seorang yang mencoba berlari dari kehidupan bangsawannya, tapi takdir tetaplah takdir; ia seperti bayangan, sejauh apapun engkau berlari ia akan terus melekat erat mengikutimu. Sebuah catatan harian yang membuatnya menginjakkan kaki disebuah jalan bernama Grande Rue de Péra, disini dia kembali ke titik semula; bertemu dengan seseorang dari garis keturunan kerajaan.

***

KEPINGAN I
GRANDE RUE DE PÉRA; Jalan Baru.

MAKHLUK senantiasa hidup dengan harapan-harapan; harapan seorang ayah agar esok bisa pulang bukan sekedar membawa uang Rp.5000 dengan senyuman “nak hari ini kita makan ayam”, harapan seorang guru agar murid-muridnya menjadi sosok yang lebih baik daripadanya dan mungkin juga harapan sebatang tunas muda untuk bertemu hujan di musim kemarau. Adapula sebagian makhluk yang menjalani kehidupan setengah robot, mengikuti norma-norma adat yang berlaku dan terlebih memenuhi program yang telah ditentukan kedua orang-tua hanya karena makhluk hidup yang ditakdirkan menjadi manusia itu terlahir dengan darah yang berbeda, karena ia seorang: bangsawan.

Pembaca, izinkan ku sampaikan sesuatu sebelum anda terlalu jauh berkhayal tentang kisah perjalanan kehidupan seorang yang terlahir berdarah biru. Ini bukanlah kisah dongeng tentang putri-raja yang setelah beberapa ratus halaman anda akan menemukan tulisan “and they lived happily ever after” bukan pula tentang kisah romantis nan herois yang akan membuat anda melayang terbang ke awang-awang. (Juga) bukan tentang kisah sang pemimpi yang akhirnya menginjak tanah impian. Gambaran tentang kisah ini kurang lebihnya mengutip beberapa kalimat dalam novel Shirley:

“Calm your expectation; reduce them to a lowly standard. Something real, cool and solid lies before you; something unromantic as Monday morning, when all who ave work wake with the consciousness that they must rise and betake themselves thereto.”

***

Karena dibangun dengan arsitektur di zaman Belanda rumah ini senantiasa terjaga dari panas menyengat musim panas pertengahan tahun. Jendela menjulang tinggi memberikan keleluasaan udara menari-nari didalam bangunan klasik era penjajahan. Jendela kamar berhadapan langsung dengan gerbang yang usianya lebih tua dari kakek; sebuah gerbang bertulis Bondjeroek, ejaan lama untuk desa Bonjeruk. Dari gerbang kualihkan tatapan nanar ke koper coklat yang berisi perlengkapan seadanya nanti dinegeri Kiwi. Nafas panjang kuhela berkali-kali untuk kehidupan setengah robot yang kujalani semenjak usia belia—adapun asal muasal manusia setengah robot ini ada baiknya saya ceritakan di fragmen lain.

Kuedarkan pandangan ke rak buku untuk mencari buku yang tepat menemani perjalanan berjam-jam menuju bandara Auckland. Tracy Chevalier; Girl with Pearl Earring, Sapardi Djoko Damono; Hujan Bulan Juni, Danielle Steel; Legacy. Eh tapi ada yang salah, sebuah buku berwarna ungu muda terselip diantara Legacy dan Hujan Bulan Juni.

Ah ya, itu buku catatan yang beberapa bulan sebelum wisuda kutemukan di perpustakaan, tergeletak begitu saja didekat tumpukan buku referensi skripsiku. Sampai sekarang entah apa arti Kr36:410049N285718S di sampul depannya. Yang menarik adalah sebuah prosa satu bait dihalaman pertamanya:

It’s enough for me to love you from distance-loving you is just like being in love to the beaches, to the mountains and to the falls-I can freely love them but they cannot be mine. Grande Rue de Péra 03/09/2011.

Sepertinya menarik untuk dibawa bersama dengan Legacy-nya Danielle Steel. Pilihan yang tepat, kisah perjalanan seorang Indian Amerika Dakota Sioux ke Prancis mengejar cintanya bersanding dengan buku harian catatan cinta yang tak terkejar. Hidup memang tentang sebuah ironi. Tunggu! Prancis-Amerika? Dan dalam hitungan detik kalap kubuka salah satu translation engine dari bahasa Prancis ke bahasa Inggris : Grande Rue de Péra: Independence Avenue. Independence Avenue. Search. Enter! Washington DC-USA.

***

Entah kegilaan apa yang menyerangku sehingga kualihkan layar perahuku menuju sebuah kota dengan Grande Rue de Péra. Kuputuskan mengikuti setiap jejak pemilik buku catatan harian ini. Mungkin rasa penasaran ini hanya sebuah tameng akan rasa ingin lepas dari kehidupan setengah robot, ku ingin pergi lebih jauh bukan hanya sekedar negara tetangga. Ah, mungkin, mungkin saja. Benang kusut tentang hidup, tentang sebuah jalan ini buyar ketika seseorang preman berteriak kepada ibu disebelah bangkuku.
“Bu, ini kursi saya. Cepat pindah!”
“Tapi saya tadi udah bilang ke supirnya kalau kita tukar tempat duduk”
“Itu urusan ibu dengan supirnya, saya gak mau tau! Ini kursi saya!”
Ya Allah dosa apa yang hamba perbuat? Tidakkah cukup menderita perjalanan dua hari dua malam Lombok-Jakarta demi wawancara beasiswa? Sekarang sebangku dengan preman pula. Ada rasa menyesal beasiswa ke New Zealand kubatalkan begitu saja demi sebuah rasa penasaran akan sebuah catatan harian berwarna ungu muda. Untuk sementara sepertinya aku harus bersahabat dengan kenyataan. Demi sebuah jalan baru, jalan kemerdekaan jauh dari tatapan norma-norma adat. Jalan menuju Grande Rue de Péra, Independence Avenue, Jalan Merdeka.

—Bersambung ke KEPINGAN II: Roman Picisan Sang Preman—

A CREPUSCULAR: HUJAN BULAN JUNI

A CREPUSCULAR: HUJAN BULAN JUNI

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Tak apa-apa ya. Sesekali kita membahas salah satu puisi kesayangan saya. Puisi diatas judulnya Hujan Bulan Juni. Saya suka puisi ini bukan hanya karena saya lahir di bulan Juni, tapi juga disebabkan puisi ini penuh makna.

Kalau dirunut-runut dari tahun puisi ini diciptakan, dimasa itu musim relatif stabil – maksud saya musimnya tak galau – jadi bulan juni sudah tak mungkin lagi akan ada turun hujan karena sudah masuk musim kemarau. Jadi puisi diatas menceritakan suatu hal yang menurut manusia tidak mungkin terjadi. Perhatikan bait pertama puisinya; ini tentang bagaimana ketabahan hujan yang walau ia rindu kepada pohon berbunga, hujan tetap tabah merahasiakan rindunya. Seperti juga seseorang yang memendam rindu – atau cinta mungkin – kepada seseorang dan mungkin seseorang itu terlalu jauh untuk ia gapai.

Hey, apakah saya disini sedang membicarakan keputus-asaan? Nope. Saya justru disini ingin membahas sesuatu yang – mungkin – mencerahkan. Jadi di Istanbul beberapa hari di bulan Juni ini turun hujan yang membuat kami disini malah malas untuk keluar disamping memang sedang minggu-minggu ujian. Jadi maksud saya disini adalah tak ada hal yang tak mungkin di dunia, meminjam sebuah jargon dari salah satu pertai politik: IMPOSSIBLE IS NOTHING. Tak ada hal yang tak mungkin di dunia, kadang mungkin dunia dalam pikiran kita aja yang terlalu sempit. Maybe you could move a little bit; move your feet a little bit to neighbor country (maybe), or move a little bit to neighbor continent. Who knows what surprise(s) you might get. Move a little bit supaya kita bisa melihat bahwa HUJAN BULAN JUNI itu is more than POSSIBLE; supaya dia yang tak terjangkau itu jadi terjangkau. TRUST ME. You should try.

Seperti judul diatas CREPUSCULAR; sebuah kata dalam bahasa inggris yang saya tidak menemukan artinya dalam bahasa Indonesia, crepuscular adalah cahaya matahari yang menyelinap diantara awan diwaktu senja. Kalau bingung akan penjelasan saya silahkan lihat gambar di bawah. Jadi walau sudah senja, matahari juga akan menemukan caranya untuk menyelinap memberi cahaya kepada bumi, walau waktunya sedikit, walau harus menembus kumpulan awan. YOU SHOULD SHINE! WHAT EVER IT TAKES. YOU SHOULD GRAB YOUR DREAM, WHATEVER IT TAKES!

*maaf akan bahasa yang campur-campur disebabkan oleh pikiran saya yang mumet menghadapi ujian. Tapi saya tak tahan untuk tidak menulis. Saya anggap ini sebagai a break membaca materi-materi kuliah. Sigh.

*semua foto di tulisan ini dari mbah google

Crepuscular1606_650x488

MUTIA(RA) HARI INI

MUTIA(RA) HARI INI

Di tengah menumpuknya tugas, laptop ngadat, presentasi yang menumpuk, saya menerima pesan lewat whatsapp beberapa hari yang lalu berisi permintaan bantuan untuk menemani rombongan mahasiswa S2 dan S3 Groningen-Belanda yang mau berkunjung ke Istanbul-Turki. Disebabkan mereka telah menghubungi beberapa rakan lain tetapi tidak ada yang bisa, akhirnya saya menyanggupi permintaan tersebut.

Singkat cerita hari ini saya menemani rombongan tersebut jalan-jalan di Istanbul. Jam 10 ketika sedang berada dalam Aya Sofia saya menerima pesan via whatsapp “Mbak akan hadir? Ustadz Yusur Mansur mau ketemu”. Masya Allah, saya ingin sekali ketemu Ustadz Yusuf Mansur tapi mau diapakan rombongan 26 orang ini? Tentu saja saya (dan mungkin orang lain juga) akan memilih hal yang sama: tetap menemani mereka sesuai dengan janji. Well, sebenarnya tidak hanya hal itu yang saya lewatkan hari ini, ada salah dua lagi yang saya korbankan: mengunjungi acara 7th International Student Festival in Istanbul dan Diskusi Mingguan RUHUM “The Power of Ethnography And The Study of Muslim Cultures”. Tapi, saya teringat kata-kata adik saya tersayang Lale Yuyun Puspitasari: kamu ada dua pilihan, mengecewakan banyak orang dan mengecewakan satu orang (dirimu sendiri). Ya, saya pilih mengecewakan diri saya untuk tidak mengecewakan 26 orang keluarga dari Groningen.

Dan hadirlah mutia(ra) mungil ini di rombongan tersebut. Saya: “Adik, namanya siapa? Umurnya berapa? SubhanAllah jilbabnya bagus beli dimana?”. Adik: “Mutia, empat tahun, jilbabnya beli di Indonesia”. Karena tidak tega melihat orangtua mutia yang kelihatan kelelahan mendorong stroller, akhirnya saya berkata kepada mutia: “Mutia, sini jalan aja sama kakak ya, biar jadi anak kuat, anak cerdas, pasti mutia bisa”. Dan sejak dimulai percakapan tersebut kami terus saling bergandengan tangan sepanjang jalan dan ia tetap menolak naik stroller walau orangtuanya memaksa. Percakapan kami tak jauh-jauh: bernyanyi, menghitung anak tangga yang kami naiki sampai dengan percakapan mengenai jilbab. “Adik itu rambutnya keluar, diperbaiki yah, kalau pakai jilbab itu rambutnya jangan ada yang keluar”. Sambil tersenyum dia memasukkan rambutnya yang terurai keluar jilbab. Singkatnya, di akhir waktu menemani keluarga dari Groningen saya minta bersalaman dengan mutia tapi ia menolak. Kecewa tentu ada, dan saya tetap meminta untuk salaman dengan mutia, tetap juga cinta saya bertepuk sebelah tangan. Akhirnya saya menyerah dan ibunyapun bertanya “Mutia kenapa gak mau salaman sama Kak Fatma?” dan ia menjawab sambil berbisik kepada ibunya (kalau saya tidak salah dengar): “Mutia sedih pisah sama Kak Fatma”. Seketika itu saya tidak tau mau menanggapi bagaimana. Walau pertemuan dengan Mutia hanya sebentar, kami berdua merasakan hal yang sama bahwa hati kami berdiskusi dengan tulus.

Benarlah bahwa kita mungkin meminta sesuatu dan Allah tolak untuk memberikan sesuatu itu tapi menggantikannya dengan yang jauh lebih baik. Seperti halnya dulu saya meminta sekolah di benua A atau benua B, tapi Allah menolak memberi salah satu dari keduanya. Dan, Allah memberikan saya benua C yang darinya saya bisa ke benua A dan benua B. Begitu pula dengan hari ini; saya mungkin melewatkan mutiara hikmah dari Ustadz Yusuf Mansur dan dari diskusi mingguan RUHUM. Tapi Allah menggantinya dengan ribuan MUTIA(RA) yang jatuh ribuan kali, DIHATIKU.

*Foto: miniatur keramik kincir angin khas Belanda dari keluarga Groningen.

KEKASIH BARU: GE

KEKASIH BARU: GE (baca: Ji)

Sumber Photo: Koleksi Pribadi

SUATU hari dalam perjalanan menuju desa yang sangat terpencil di pelosok pulau Lombok, saya pernah terlibat diskusi yang cukup menarik bersama pimpinan saya yang berkewarganegaraan America tapi keturunan Cina—bahasa populernya: Chinese American. Sebagai seorang asisten yang merangkap interpreter saya dituntut bekerja multi-tasking, begitu-pun dengan pimpinan saya: contohnya saja yang terjadi pada hari itu ketika seorang supir berhalangan masuk kantor. Jadilah ia mengendarai sendiri mobil untuk berkunjung ke lapangan yang menjadi agenda rutin setiap minggunya. Seperti yang saya sebutkan tadi bahwa hari itu kami menuju desa terpencil di daerah Kabupaten Lombok Utara. Daerah ini sebenarnya terletak di ujung Kabupaten Lombok Utara dan sangat dekat dengan daerah Kabupaten Lombok Timur. Sungguh, demi Allah banyak sekali pemandangan indah yang belum diketahui masyarakat Lombok—apalagi masyarakat Indonesia. Dan sesekali kami berhenti untuk memfoto objek-objek indah ini. Dan pada suatu menit di hari itu saya berkata.

Saya: “Andai saya punya kamera sendiri, pasti saya sudah mengumpulkan banyak foto-foto yang indah”
Lee: “Fatma, momen itu terkadang tidak perlu untuk diabadikan menjadi gambar, indahnya cukup kau kenang di dalam hati”
Saya: Iya tapi setidaknya saya bisa menunjukkan gambar tersebut kepada teman-teman saya, bahwa ada suatu daerah di Lombok ini yang indahnya tak terkira”
Lee: “Fatma, kamu tidak mengerti bahwa alam dan gambar itu sangat berbeda, ketika kamu mencoba memindahkan alam ke dalam sebuah gambar ada sesuatu yang kamu rusak: kamu telah merusak sesuatu yang disebut pengalaman. Dengan memperlihatkan gambar tersebut kepada temanmu yang dia lihat hanya gambar, dia tidak bisa merasakan pengalaman yang sama seperti pengalamanmu melihat langsung objek tersebut. Jadi, momen itu cukuplah kau kenang di hati”

Saya pun terdiam tak tau harus menjawab apa, saya sebenarnya mengamini perkataan pimpinan saya tadi tapi saya masih berpagang teguh pada pendapat saya yang tadi. Saya sebenarnya heran kenapa pimpinan saya yang seorang diver bersertifikat internasional dan lulus jurusan ekonomi bisa berbicara begitu dalam seperti itu.

***

Bulan September ketika mengikuti kuliah pertama tentang teori puisi, saya sangat heran ketika dosen saya ini menjelaskan tentang teori proses penciptaan puisi oleh pujangga yang sebenarnya menghancurkan esensi benda asli-nya. Ketika seorang pujangga mengubah sebuah objek menjadi sebuah rangkaian kata-kata, sebenarnya pujangga tersebut telah merusak objek aslinya karena ada sesuatu yang hilang di puisi tersebut: sebuah pengalaman. Pengalaman yang tidak akan pernah dirasakan oleh pembaca, pembaca hanya bisa melihat kata bukan melihat objeknya langsung.
Saya sangat heran betapa teraturnya sebenarnya kehidupan ini diatur oleh Tuhan Semesta Alam. Teori yang saya dapatkan bertahun-tahun lalu kini saya dengar kembali. Bedanya saya dulu mendapatkan teori ini dari seorang adventurer kelas kakap yang telah mengunjungi banyak negara dan telah merasakan berbagai rasa dunia dan mempunyai gelar pendek, teori lainnya saya dapatkan dari seorang dosen yang telah membaca berbagai buku dunia dan bergelar sangat panjang.

***

Saya kini menyadari bahwa ilmu itu bisa kita dapatkan dari mana saja dari orang yang bergelar pendek maupun yang bergelar panjang bahkan bisa jadi orang yang bergelar pendek tersebut lebih tau banyak—karena ia telah merasakan berbagai rasa dunia.

***

Izinkan saya bercerita tentang kekasih baru saya. Ketika pertama kali bertemu saya menganggapnya biasa-biasa saja, bahkan ketika seorang pelayan toko itu memperkenalkannya pada saya, saya cuek saja memperhatikan barang-barang di toko tersebut. Tapi kemudian takdir mempertemukan kami dengan tak sengaja dan jadilah pada tanggal 11.12.13 aku menerimanya. Tidak sepenuhnya saya menerima dia yang apa adanya, saya membutuhkan seorang kekasih yang elegan seperti orang-orang. Kekasih yang kapasitasnya jauh diatas rata-rata. Hal-hal itu tidak saya dapatkan padanya yang serba sederhana, dan jujur saja saya menyesal menerima dia menjaid kekasih saya.

Sampai pada suatu hari saya menceritakan permasalahan saya kepada teman sekamar saya. Ketika ia saya perkenalkan kepada teman sekamar saya, mata teman saya berbinar-binar seolah melihat hal yang sangat luar biasa. Saya terheran-heran kenapa teman saya sampai sebegitu bahagianya melihat kekasih saya itu.

Khan: “Fatma I can’t believe, what I see in front of my eyes is GE right?”
Saya: “Yes, it’s GE, why?”
Khan: “How much it cost you?
Saya: “Only 200 lira and I regret buying this camera, the brand from nowhere”
Khan: “Oh, Fatma it’s very good electronic brand from Germany! They are very famous Fatma. And you are so lucky to get this well-known brand camera for only 200 lira!”

Saya menyesal telah underestimate kekasih saya yang baru: kamera GE. Ternyata kamera ini adalah kamera merek terkenal yang dibuat di Jerman. Kesimpulannya adalah bisa jadi sesuatu itu buruk dimata kita tapi sangat berharga dimata orang lain. Hal ini terjadi bukan hanya karena kita tidak pandai bersyukur tetapi juga karena kita tidak pandai membaca dunia: seperti saya yang tak tau bahwa GE adalah sebuah brand terkenal dari Jerman.

***

Selamat datang dalam hidupku GE, kita akan mengabadikan momen-momen penting itu bersama. Bukan karena saya ingin menghancurkan objek aslinya seperti teori yang dikemukakan dosen itu tapi karena saya ingin suatu hari nanti ketika usia memakan ingatan saya engkau akan menjadi pengingat bahwa Tuhan Semesta Alam telah memberikan saya kebahagiaan yang tak terhitung jumlahnya. Sehingga saya terhindar dari menjadi manusia yang kufur akan nikmat. Salam sayang untukmu GE (baca: Ji).

Istanbul 11.12.13
Hari dimana kamu menjadi kekasihku dan juga hari dimana kau menemaniku mengabadikan momen badai salju diantara dua masjid: Aya Sofia dan Blue Mosque.

Gambar GE dari dekat:

Salah satu gambar yang menggambarkan sisa-sisa musim gugur yang masih bisa dilihat di musim dingin yang diabadikan oleh GE:

Sumber Photo: Koleksi Pribadi

Sumber Photo: Koleksi Pribadi

UNSEEN: TAK TERLIHAT

UNSEEN

Photo: Aya Sofia with snow storm 11.12.13

English Version:

Have you ever seen snow grains falling down into the sea? Have you ever seen billions of billions snow grains falling down into the Bosporus? If not let me tell you: those billions of billions snow grains sincerely accept the fate to be fallen into the Bosporus and turn into water despite the fact that they will be unseen. I also sincerely accept my fate to fall into you billions of billions time even if I will be unseen to you like yesterday and the day before yesterday: still.

Indonesian Version (Edisi Yang Nyastra Abis):

Pernahkah kau melihat butiran salju jatuh mendarat di lautan? Pernahkah kau melihat triliunan butiran salju mendarat di atas Bosporus? Cinta tak berbalas itu seperti butiran-butiran salju yang mendarat merengkuh laut selat Bosporus itu. Sebanyak apapun salju yang jatuh, ia akan mencair dan menghilang: ia bukan lagi salju. Ia kini menjadi sesuatu yang tak terlihat. Begitu juga denganku dihadapanmu, sebanyak dan sesering apapun aku hadir dihadapanmu, aku tetap tak telihat.

Istanbul 11.12.13

Photo: Sultan Ahmet-Blue Mosque when snow storm hit Istanbul

Photo: Sultan Ahmet-Blue Mosque when snow storm hit Istanbul

ROOM-MATE

SNOW 11.12.13 10

Me and my room-mate on the first day of snow 11.12.13

 

English Version:

A good room-mate  is someone you really miss when she is away from your side and you feel the room is empty without her.

Bahasa Indonesia Version:

Teman kamar yang baik itu adalah seseorang yang kau rindukan ketika ia tak ada disampingmu dan kamar terasa hampa tanpa kehadirannya.

SIKAT GIGI YANG MANDIRI

SIKAT GIGI YANG MANDIRI

Sumber photo: ishotthat.blogspot.com

SAYA sebenarnya sedikit benci dengan ide menulis yang datang tiba-tiba. Terkadang ide itu datang ketika saya sedang asik-asiknya menulis tugas kuliah. Terkadang malah ide itu muncul ketika saya sedang sikat gigi! Iya, hanya karena sikat gigi. Sikat gigi yang membawa saya berkelana kembali ke masa lalu.

***

Pagi ini ada penyuluhan tentang kesehatan gigi disekolah oleh P*ps*d*nt dan PDGI. Masing-masing siswa harus membawa sikat gigi ke sekolah. Untunglah gak perlu bawa odol juga, kalau iya bisa marah-marah Inaq [suku sasak: ibu] dan ngomel-ngomel menyebut guru kami KKN. Saya masih ingat dulu ketika SD, guru-guru sering menugaskan kami untuk membuat sapu lidi dan dikumpulkan sebagai nilai mata pelajaran Kerajinan Tangan. Beralasan juga ibu saya mengatakan seperti itu, karena hitung saja berapa jumlah siswa perkelas, misalnya kelas saya waktu itu ada 23 orang. Jadi ada 23 buah sapu lidi. Akan diapakan sapu lidi sebanyak itu? Untuk piket bersih kelas, paling banter kami membutuhkan 5 biji sapu lidi, karena tiap harinya hanya 5 biji yang terpakai. Selebihnya? Mungkin dibawa ke rumah guru tersebut. Kali ini saya bilang ‘Wallahu’alam bishawab’.

Saya juga tidak menyalahkan kalau seandainya ada guru seperti itu. Di zaman saya dulu, guru SD gajinya tak seberapa—setelah saya beranjak dewasa baru saya mengetahui bahwa pemerintah ternyata tidak terlalu memperhatikan kesejahteraan guru. Salah satu guru SD saya dulu adalah langganan ibu saya di pasar. Beliau sering mengeluh tentang gaji yang sedikit, jadilah ibu saya berbaik hati memberikan diskon harga sayur. Kalau saya pikir tak apalah guru saya berbuat seperti itu—maksud saya membawa sapu lidi tersebut untuk digunakan dirumah. Toh, kalau didiamkan di sekolah juga akan jadi barang mainan kami; menjahili teman sebangku, dijadikan tusuk sate ketika kami main masak-masakan, dan lain sebagainya. Nah, begitulah sejarah ibu saya sering ngomel-ngomel tentang guru kami yang KKN—padahal hanya sapu lidi. Kadang-kadang saya berpikir bahwa ibu saya terlalu mendramatisir keadaan atau mungkin karena ibu saya tau bagaimana susahnya cari uang.Ya mungkin saja.

Balik lagi ke isu penyuluhan gigi. Subuh-subuh saya sudah sibuk mengurus sikat gigi saya ini. Sikat gigi saya waktu itu sudah tua sekali, maklum jatah kami berganti sikat gigi hanya sekali setahun—yang idealnya sikat gigi diganti 3 bulan sekali. Bulu sikat gigi saya sudah meluber kemana-mana. Jadi sebelum berangkat kesekolah saya harus memperbaiki sikat gigi saya terlebih dahulu. Kebayang kan bagaimana memperbaiki sikat gigi? Silahkan membayangkan sendiri dah.

Seperti biasanya, mereka memperagakan bagaimana cara menyikat gigi yang baik, kemudian kami mempraktikkannya diluar, syukur teman-teman saya tidak terlalu memperhatikan sikat gigi saya, mereka sibuk dengan adegan menyikat gigi yang baik dan benar. Sibuk menarik perhatian dokter-dokter gigi yang cantik dan ganteng. Sedang saya sibuk menyembunyikan sikat gigi saya yang buruk rupa dibalik mulut saya. Untunglah.

Sesi terakhir penyuluhan ini sebenarnya yang saya tunggu-tunggu, sesi pertanyaan dengan hadiah yang menggiurkan. Saya berdoa semoga saja hari ini saya yang beruntung mendapatkan hadiah tersebut. Saya sudah tegang mendengar pertanyaan yang dibacakan. “Lapisan terluar gigi disebut?”
Dengan cekatan saya angkat tangan, sebelum kesempatan diambil orang. Saya sempat celingak celinguk kiri kanan, dan hanya saya sendiri yang angkat tangan. Ternyata ada juga manfaatnya saya khusuk menyimak penyuluhan gigi untuk menyembunyikan sikat gigi yang buruk rupa selagi teman yang lain sibuk memamerkan sikat gigi mereka. Singkatnya, saya hari ini pulang sekolah dengan riang gembira; membawa dua sikat gigi warna biru dan warna kuning. Kuning buat saya dan yang biru buat adik saya. Akhirnya kami punya sikat gigi yang baru, tidak harus menunggu enam bulan lagi.

–tamat—

***

DAN, ketika saya menyikat gigi hari ini, di negara lain. Hari ini saya bangga, kalau diingat-ingat, inilah hari pertama saya merasa bangga terhadap diri sendiri yang sebelumnya sangat pesimistis melihat teman sekelas saya yang otaknya canggih-canggih, yang ngomong bahasa inggris selancar minum air. Hari ini saya bangga hanya karena SIKAT GIGI; bahwa hari ini saya tidak lagi bergantung pada orang tua untuk membeli sikat gigi yang baru. Bahwa hari ini, dengn uang yang saya punya, saya bisa membelikan ratusan sikat gigi yang baru untuk mereka—meskipun dari uang beasiswa dan uang jadi guide di Istanbul.

Hasan Al-Banna pernah merumuskan 10 kunci kualifikasi manusia pembangun peradaban, salah satunya adalah mandiri secara ekonomi—selebihnya silahkan cari dengan ’10 muwashofat tarbiyah’. Jadi kalau kita tak mandiri secara ekonomi, jangan bermimpi untuk menjadi salah satu diantara para manusia pembangun peradaban sekelas Saifuddin Qutuz ataupun Muhammad Al-Fatih. Selamat mempersiapkan diri menjadi manusia pembangun peradaban dimanapun kita berada.