SEBUAH IRONI YANG BERKELANJUTAN: DAYLIGHT SAVING TIME

Tepat di tanggal 27/10/2013 waktu di di negara Turki dimajukan satu jam lebih awal dari biasanya. Memasuki musim panas—yang sebenarnya masih spring—waktu akan dipercepat satu jam. Sedangkan, memasuki musim dingin—yang sekarang sebenarnya masih fall—waktu akan diperlambat satu jam.  Nah, pada hari ini tanggal 27/10/2013 yang terjadi adalah waktu diperlambat satu jam. Artinya bahwa kemarin pada tanggal 26/10/2013 waktu subuh adalah jam 05:54 (hampir jam 6) maka pada tanggal 27/10/2013 (keesokan harinya) subuh akan jadi lebih awal pada 04:55 (hampir jam 5). Satu jam perbedaan.

Artinya bahwa Sholat Dzuhur dilaksanakan jam 11:55 (hampir jam 12). Sholat Ashar jam 14:46 (hampir jam 3 siang). Sholat Magrib jam 17:15 dan Sholat Isha jam 18:35.

Untunglah perubahan waktu ini oleh para ahli sudah di atur dengan sedemikian rupa. Sehingga laptop dan hp dengan sendirinya menyesuaikan. Bayangkan kalau saja ini tidak otomatis. Banyak orang yang mungkin lupa mengatur jam sehingga keesokan harinya telat telat kesekolah, kampus, ataupun ke kantor.

Sebenarnya saya sedang bicara ngalor-ngidul entah kemana. Sebenarnya hal inti yang mau saya bicarakan disini adalah bagaimana SEBUAH IRONI yang saya tulis sebelumnya menjadi SEBUAH IRONI BERKELANJUTAN. Disebabkan oleh perbedaan waktu antara Istanbul-Turki dengan Lombok-Indonesia tepat 6 jam. Ketika saya mengatakan selamat malam, kau disana mengatakan selamat pagi. Oh ya, Selamat Hari Sumpah Pemuda buatmu disana, disini masih 7 jam lagi.  Selamat malam waktu Istanbul-Turki dan selamat pagi waktu Lombok-Indonesia.

Advertisements

NEGERI DIANTARA LAUTAN

Image

Photo: Raja Ampat. Sumber: http://www.pixoto.com/indrampe

Dahulu kala, ada sebuah cerita tentang sebuah kabilah yang hidupnya berpindah-pindah—nomaden. Mencari sebuah negeri yang subur untuk didiami. Singkat cerita, kabilah mereka menuju bumi sebelah timur, sayangnya bumi sebelah timur nan subur itu sudah ditempati kabilah lain. Berangkatlah mereka lagi menuju bumi sebelah utara, tapi sayangnya lagi bumi sebelah utara nan kaya itu sudah ada kabilah tangguh. Mereka kemudian dengan gontai menuju ke arah barat, tapi lagi-lagi daerah ini barat dipenuhi dengan benteng yang berat untuk ditembus. Dengan setengah asa untuk mendapatkan tempat yang lebih layak, mereka kemudian menuju ke arah selatan. Mereka sungguh sangat kaget, yang didapati malah gurun pasir tak berpenghujung. Mereka dengan gontai kemudian berbalik arah. Semua arah mata angin sudah mereka jelajahi. Mereka hanya memiliki dua pilihan; menumpang hidup di kabilah-kabilah tersebut dan menjadi budak mereka atau mencari daerah yang mungkin belum sempat terjelajahi.

Suatu hari mereka mendapatkan angin segar bahwa suatu negeri di daerah tenggara terdapat sebuah negeri yang kekayaan alamnya melimpah ruah, hanya saja terdapat satu kesulitan; negeri itu ternyata nun jauh di tengah lautan luas. Mereka harus punya sesuatu untuk menyebrang ke negeri tersebut serta pasokan makanan pun harus memadai. Musyawarah pun digelar, menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengarungi lautan luas nan ganas itu daripada menanggung malu hidup menumpang di kabilah lain. Nenek moyang kabilah ini mengajarkan mereka untuk tak tmenggantungkan diri pada orang lain. sungguh akan menjadi aib kalau hal itu terjadi. Tapi, sekarang timbul yang jadi kesulitan terbesar adalah bagaimana mereka harus mengarungi laut luas nan ganas itu?

Sementara pemuka-pemuka kabilah terus melakukan musyawarah demi musyawarah, pemuda-pemuda kabilah itu lebih senang berburu dan bersenang-senang daripada harus memikirkan hal yang menjaid tanggung jawab pemuka kabilah. Tapi seperti janji Tuhan Semesta Alam, bahwa setiap apa-apa yang ia ciptakan berpasang-pasangan. Diantara pemuda-pemuda nan bagus paras rupa, ada seorang pemuda berparas biasa saja. Tapi ia sangat senang jika diajak bermusyawarah memikirkan nasib kabilah. Ia senang mendengarkan pemuka-pemuka kabilahnya bermusyawarah. Ia kadang tak ragu menjadi pelayan yang menuangkan minum untuk pemuka kabilah ketika mereka sedang bermusywarah—yang sebenarnya tugas itu adalah tugas kaum wanita kabilah tersebut. Ia pemuda yang lebih senang merenung didalam hutan dibanding pemuda sebayanya yang lebih suka bersenang-senang. Ia merasa tenang, walau tak ada gadis rupawan yang tertarik padanya. Setidaknya alam menjadi teman setianya selama ini. Dan selama ia bisa memberi manfaat kepada kabilahnya, akan sangat cukup membuat hatinya senang.

Iya, mungkin dia tak sepintar teman-temannya yang lain dalam bergaul dengan pemuda yang ada di kabilahnya. Iya, mungkin ia tak sepandai pemuda lainnya untuk menaklukkan hati wanita dibandingkan dengan pemuda lain di kabilahnya. Tapi sungguh, ia mempunyai hati yang mulia. Hari-harinya ia penuhi dengan menyepi ketika berita dari pemuka-pemuka agamanya ia dengar, bahwa ada suatu negeri subur yang akan menjadi masa depan bagi kabilahnya. Ia sedang menyelesaikan sebuah misi. Misi untuk membantu kabilahnya menyebrangi tanah impian. Sampai suatu hari ia datang kepada pemuka kabilah. Ia menyatakan maksudnya. Mula-mula mereka tak percaya, tapi setelah pemuka kabilah tersebut menyaksikan sendiri bagaimana kayu-kayu yang pemuda itu bentuk menjadi sebuah alat yang bisa mengapung di lautan, barulah mereka percaya.

Tak mau menunggu terlalu lama, keesokan harinya mereka pun memulai pelayaran menumbus samudera luas dan ganas. Berhari-hari. Mereka merasakan dingin yang sangat. Lapar yang ditahan. Ikan mentah harus mereka makan hidup-hidup. Tak ada api, karena api sama saja dengan menenggelamkan seluruh anggota kabilah. Sampai tibalah mereka pada suatu daerah yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Suatu daerah yang mereka gambarkan sebagai surga dunia. Sebuah negeri yang sekarang kita kenal dengan nama N-U-S-A-N-T-A-R-A. Sebuah negeri yang seperti namanya; negeri yang diantaranya lautan luas.

Ketika semua orang sibuk bergembira-ria pemuka kabilah datang menghampiri pemuda biasa-biasa saja itu. Pemuka kabilah berterimakasih pada pemuda berhati mulia tersebut. Pemuda itu hanya tersenyum dan memberikan senyum yang penuh arti kepada sang pemuka kabilah. Ia bangga dengan apa yang ia lakukan. Iya betul, ia mungkin pemuda biasa saja, tapi hatinya sungguh luar biasa.

Ia kemudian melanjutkan hari-harinya seperti biasa, mengumpulkan kayu-kayu sebagai bahan ia membuat tempat bernaung, membuat sebuah pondokan. Hingga pada suatu malam ketika ia sedang menatap ayam liar panggangannya matang, seorang gadis cantik jelita menghampirinya.

“Aku diutus ayahku, pemuka kabilah ini untuk mengirim hadiah kepadamu”

Pemuda tersebut melihat beberapa barang yang gadis cantik jelita itu bawa; kacang-kacangan dan umbi-umbian. Ia sangat bersyukur. Makanan yang dibawa oleh gadis jelita tadi cukup untuk ia bertahan seminggu. Ia pun bisa beristirahat seminggu tanpa harus pergi ke hutan. Ia kemudian sibuk kembali dengan ayam panggangnya. Tapi, gadis tersebut masih berdiri di dekat pondokannya. Pemuda tersebut memberikan tatapan heran seakan mengatakan “ya sudah pergi, ngapain disini?”. Sadar dengan tatapan bertanya pemuda tersebut, gadis jelita itu kemudian berkata.

“Ayahku menyuruhku untuk menikah denganmu, menetap denganmu, dan melahirkan anak-anak dengan generasi yang cerdas sepertimu. Agar kelak nanti keturunan kabilah kita mempunyai keturunan yang cerdas-cerdas bukan hanya keturunan yang bagus rupa…”

Oh ya, saya hampir lupa, nama pemuda itu adalah ‘Indo’ dan gadis tersebut bernama ‘Anesia’. Mereka adalah INDONESIA.

—tamat—

Cerita diatas hanya khayalan saya saja setelah membaca sejarah bagaimana Nabi Nuh Ibrahim di utus untuk berdakwah, mengajak bangsa Mesopotamia yang dikenal sebagai peradaban tertua di dunia. Saya seolah-olah membayangkan ada juga kabilah tertentu yang ingin juga memiliki lahan seperti Mesopotamia, maka mereka mencari lahan baru untuk mereka tinggali, menetap dan tidak lagi berpindah-pindah—nomaden. Saya membayangkan bagaimana bangsa Yunani yang nomaden tergiur dengan peradaban Mesopotamia dan akhirnya menemukan I-N-D-O-N-E-S-I-A.

INDONESIA kita adalah surga melebihi negeri yang diantaranya mengalir dua sungai; MESOPOTAMIA. Mesopotamia hanya memiliki dua buah sungai. Sedang Indonesia adalah negeri yang diantaranya LAUTAN. Bukan hanya sekedar sungai, tapi kita punya LAUT!

Hal yang saya ingin sampaikan dari cerita diatas adalah bagaimana bangsa Yunani—yang menurut beberapa sumber sejarah adalah nenek moyang kita—bertarung dengan ganasnya alam, ganasnya lautan luas untuk menemukan Indonesia. Dan sebagai pemuda generasi tangguh itu, jikalau kita masih diam ditempat, kita sebenarnya telah bergerak mundur dibanding dengan nenek moyang kita—yang katanya adalah pelaut handal. Maka patutlah kita seperti mereka. Mengarungi samudera luas nan ganas, menembus daratan stepa dan savana untuk hidup yang lebih baik. Dan, bahwa negeri itu bukan hanya kaya harta tapi juga memiliki pemuda jaya!

#1: CATATAN SEPATU

Tentang Kenapa ‘Catatan Sepatu’

Izinkan saya terlebih dahulu mejelaskan dengan panjang lebar kenapa judul tulisan ini ‘catatan sepatu’. Tulisan ini bukan mengenai ‘catatan kaki’ tapi murni tentang ‘catatan sepatu’. Saya memutuskan menulis catatan ini setelah melalui berbagai macam hal hari ini. Catatan ini berawal hari ini. Sehari setelah Salahuddin Al-Ayubi menaklukkan Jerussalem yang sebelumnya dikuasai tentara salib selama 88 tahun—2 October 1187. Hari dimana suhu Istanbul mencapai 10°C—padahal musim gugur baru saja dimulai pada tanggal 22 September 2013. Hari dimana saya memutuskan untuk menarik kembali kata-kata saya bahwa “Sepertinya pulang ke Indonesia, menikah dan punya banyak anak lebih gampang dibandingkan kuliah S2”. Hari dimana saya berjanji untuk menuntaskan studi saya sampai akhir demi menjadi contoh yang baik bagi generasi penerus saya nanti. Dan sebuah hari dimana hanya demi merasakan krupuk yang dibawa langsung dari Indonesia, saya rela naik bis, kemudian naik kereta demi memenuhi rasa rindu yang mengharu biru terhadap kerupuk tersebut. Hari ini, dalam kereta saya membuka salah satu jejaring sosial dan mendapati sebuah berita berjudul “Habibie: Pesawat R-80 Akan Buat Surprise Dunia! Habibie mengatakan bahwa tidak ada jalan lain, agar orang-orang mudah berpindah tempat di benua maritim seperti Indonesia, selain menggunakan pesawat terbang. Rencananya pesawat tanpa awak ini akan menjadi alat transportasi di Indonesia akan mengudara tahun 2016 atau 2017.

Kapan Indonesia punya sistem transportasi seperti Turki? Dalam hitungan detik setalah saya melemparkan pertanyaan pada diri saya sendiri, ada sebuah kejadian yang saya lihat dari jendela kereta. Kejadian yang membuat saya terenyuh dan merasa sangat MALU. Bagaimana seorang kakek tua memakai sepatu yang ‘kebesaran’ demi melindungi dirinya dari dinginnya musim gugur Istanbul. Ia terlihat memperbaiki letak posisi pengganjal kakinya agar sepatu ‘kebesaran’ tersebut tak lepas ketika berjalan. Saya kemudian beranjak memperhatikan bajunya yang lusuh dan kumal. Saya kemudian beralih menatap sepatu saya. Masih bagus dan pas!  Saya sunguh merasa sangat hina. Mata saya mulai berair. Bagaimana mungkin terbersit keinginan untuk membeli sepatu boot baru sementara diluar sana, ada orang yang memakai sepatu lusuh dan ‘kebesaran’?—keinginan ini terbersit sekitar 15 menit sebelumnya setelah melihat sepasang sepatu boot kece. Saya kemudian memaki diri saya sendiri. Di negara maju seperti Turki saja masih ada orang-orang yang berada dibawah garis kemiskinan. Apalagi di Indonesia. Andai saja Indonesia memilki beberapa orang seperti habibie, beberapa orang saja. In sha Allah, Indonesia makmur.

Oleh sebab itu terhitung hari ini, saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk menghasilkan generasi-generasi cerdas nan tangguh seperti Habibie dan Dr. Warsito. Tentang sebuah ‘sepatu’ yang mengingatkan saya untuk mempersiapkan generasi penerus jauh hari sebelum ia dilahirkan. Catatan Sepatu.

Tentang Kenapa ‘The Legacy’

Catatan yang akan ditulis nanti adalah catatan untuk anak-anak saya kelak. Semoga berguna bagi mereka sebagai sebuah warisan ‘The Legacy’. Catatan yang berisi harapan-harapan seorang ibu—calon ibu tepatnya—untuk anak-anaknya kelak. Jadi, izinkan saya untuk memulai catatan ini untuk anak-anak saya—nanti. Berharap suatu hari, anak-anak saya akan membaca catatan ibunya ini.

 “Nak, sebelum kau pamerkan sepatumu—yang esensinya hanya sebagai pelindung kaki—pada orang-orang, berpikirlah terlebih dahulu bahwa di pelosok sana banyak orang yang belum bisa punya sepatu sepertimu”

“Nak, janganlah seperti ibumu ini yang sangat membenci pelajaran yang berkaitan dengan hitung-menghitung, apalagi yang namanya rumus turunan fisika yang susahnya nauzubillah—rumus yang beranak-pinak. Engkau—kalian—mustinya seperti Habibie, seperti Dr. Warsito yang memberi manfaat bagi orang lain. Jangan gunakan waktu hidupmu untuk kesia-sian nak. Lihatlah bagaimana ibumu ini, begadang tengah malam demi menulis catatan ini untuk kalian”

 “Nak, sabarlah membaca catatan-catatan ibumu ini, kelak kau akan mengerti kenapa ibumu melakukannya”

03 Oktober 2013.
Istanbul.

EKSOTISME LAKI-LAKI INDONESIA

Untuk para lelaki Indonesia dimanapun berada. Janganlah galau karena banyak cewek Indonesia tergila dan terobsesi dengan cowok korea yang “cantik-cantik”. Taukah bahwa dalam pandangan wanita-wanita Eropa lelaki Indonesia lebih menarik daripada cowok korea yang cantik-cantik itu. Kalau tak percaya buanglah diri ke negara-negara Eropa

Kalau tak mau membuang diri ke daerah Eropa, bersabarlah sampai waktunya tiba. Bidadari yang bermata jeli, yang menyongsong dengan wajah berseri sudah Allah persiapkan untuk lelaki Muslim—apalagi Muslim yang taat. Tinggal pilih mana yang palingg kalian suka. Bidadari yang pastinya 1000 kali lebih cantik dibandingkan personil girl band Korea.

# Selamat subuh waktu Indonesia, selamat malam waktu Turki.