A CREPUSCULAR: HUJAN BULAN JUNI

A CREPUSCULAR: HUJAN BULAN JUNI

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Tak apa-apa ya. Sesekali kita membahas salah satu puisi kesayangan saya. Puisi diatas judulnya Hujan Bulan Juni. Saya suka puisi ini bukan hanya karena saya lahir di bulan Juni, tapi juga disebabkan puisi ini penuh makna.

Kalau dirunut-runut dari tahun puisi ini diciptakan, dimasa itu musim relatif stabil – maksud saya musimnya tak galau – jadi bulan juni sudah tak mungkin lagi akan ada turun hujan karena sudah masuk musim kemarau. Jadi puisi diatas menceritakan suatu hal yang menurut manusia tidak mungkin terjadi. Perhatikan bait pertama puisinya; ini tentang bagaimana ketabahan hujan yang walau ia rindu kepada pohon berbunga, hujan tetap tabah merahasiakan rindunya. Seperti juga seseorang yang memendam rindu – atau cinta mungkin – kepada seseorang dan mungkin seseorang itu terlalu jauh untuk ia gapai.

Hey, apakah saya disini sedang membicarakan keputus-asaan? Nope. Saya justru disini ingin membahas sesuatu yang – mungkin – mencerahkan. Jadi di Istanbul beberapa hari di bulan Juni ini turun hujan yang membuat kami disini malah malas untuk keluar disamping memang sedang minggu-minggu ujian. Jadi maksud saya disini adalah tak ada hal yang tak mungkin di dunia, meminjam sebuah jargon dari salah satu pertai politik: IMPOSSIBLE IS NOTHING. Tak ada hal yang tak mungkin di dunia, kadang mungkin dunia dalam pikiran kita aja yang terlalu sempit. Maybe you could move a little bit; move your feet a little bit to neighbor country (maybe), or move a little bit to neighbor continent. Who knows what surprise(s) you might get. Move a little bit supaya kita bisa melihat bahwa HUJAN BULAN JUNI itu is more than POSSIBLE; supaya dia yang tak terjangkau itu jadi terjangkau. TRUST ME. You should try.

Seperti judul diatas CREPUSCULAR; sebuah kata dalam bahasa inggris yang saya tidak menemukan artinya dalam bahasa Indonesia, crepuscular adalah cahaya matahari yang menyelinap diantara awan diwaktu senja. Kalau bingung akan penjelasan saya silahkan lihat gambar di bawah. Jadi walau sudah senja, matahari juga akan menemukan caranya untuk menyelinap memberi cahaya kepada bumi, walau waktunya sedikit, walau harus menembus kumpulan awan. YOU SHOULD SHINE! WHAT EVER IT TAKES. YOU SHOULD GRAB YOUR DREAM, WHATEVER IT TAKES!

*maaf akan bahasa yang campur-campur disebabkan oleh pikiran saya yang mumet menghadapi ujian. Tapi saya tak tahan untuk tidak menulis. Saya anggap ini sebagai a break membaca materi-materi kuliah. Sigh.

*semua foto di tulisan ini dari mbah google

Crepuscular1606_650x488

I CAN WAIT FOREVER

I CAN WAIT FOREVER

Setiba di kamar asrama, saya langsung merebahkan diri di atas kasur yang sungguh sangat berantakan. Saya tak peduli. Badan saya lelah, tapi jiwa saya jauh lebih lelah. Stress kuliah. Saya sedang menatap langit kamar asrama dengan nanar ketika teman sekamar mulai benyanyi tak karuan “I can wait forever, If you say you’ll be there too”. Mendengar rangkaian kata itu seperti ada sebuah mesin waktu yang membawa saya ke ingatan masa lalu. Menembus batas beribu-ribu mil sana, menembus waktu bertahun-tahun yang lalu.

***

Sekali dalam seminggu, rutin bagi saya melewati jalan berkelok di hutan pusuk yang hijau menuju kantor cabang Lombok Utara. Saya memilih tidur membiarkan bos saya menyetir sendiri. Supirnya sedang sakit.
“Fatma. Sleeping? Fatma I spoil you too much, now you sleep while your boss driving?”
Saya tau boss saya sedang bercanda. Saya tetap pura-pura tidur. Saya sedang tidak ingin mendengarkan ceritan tentang keluarga gangsternya di negeri Paman Sam sana. Saya sedang penat dengan pekerjaan saya. Saya bukan tidak bersyukur mempunyai bos yang sangat baik, yang sering membelikan kosmetik bermerek dari negaranya, yang kosmetik itu berakhir di tangan teman-teman saya. Bukan saya tidak bersyukur tentang gaji saya yang melampui gaji teman-teman seangkatan saya yang bekerja di bank. Bukan saya tidak bersyukur tentang fasilitas wah yang saya dapat. Saya hanya tidak ingin menambatkan kapal di pelabuhan dengan ombak tenang, saya ingin kapal itu berlayar menerjang ombak di lautan luas nan ganas karena untuk itulah kapal dibuat.

Bayang-bayang kampus yang letaknya beribu-ribu mil itu mulai menari-nari di otak saya. Kampus yang dari halamannya kita bisa menikmati pemandangan laut. Auckland University.

Bayangan kampus impian tadi buyar karena lagu yang diputar boss saya. “I can wait forever, if you say you’ll be there too. I can wait foever If you will. I can wait forever more”. Oh, betapa lagu ini membuat bayangan kampus impain itu menari-nari tak henti-henti di hati. Ya Allah I can wait forever If you say I will be there too. I can wait forever if you say I’ll. I can wait forever more Allah.

***

Ada banyak hal yang mengingatkan kita kembali pada semangat yang mungkin luntur seiring berjalannya waktu. Itu hal yang lumrah menurut saya. Hal yang harus diingat adalah bagaimana kita peka terhadap tanda-tanda yang ada disekitar kita yang mencoba terus mengingatkan kita tentang keringat-semangat itu. Tentang keringat dan semangat yang kita habiskan sampai ketitik ini. Akan ada teman yang secara tak sengaja mengingatkanmu tentang semangat itu. Sukses itu sulit, tapi lebih sulit lagi kalau tidak sukses. Hari ini takdir tidak membawa saya ke kampus dimana saya bisa melihat pantai Auckland yang menawan tapi takdir membawa saya ke kampus dengan pemandangan laut dengan bonus jembatan Asia-eropa.

#Cobalah memutar lagu “I Can Wait Forever”nya Air Supply sembari memikirkan mimpi-mimpi teman-teman, dan bersiaplah dengan letupan-letupan semangat-semangat itu.