#1: CATATAN SEPATU

Tentang Kenapa ‘Catatan Sepatu’

Izinkan saya terlebih dahulu mejelaskan dengan panjang lebar kenapa judul tulisan ini ‘catatan sepatu’. Tulisan ini bukan mengenai ‘catatan kaki’ tapi murni tentang ‘catatan sepatu’. Saya memutuskan menulis catatan ini setelah melalui berbagai macam hal hari ini. Catatan ini berawal hari ini. Sehari setelah Salahuddin Al-Ayubi menaklukkan Jerussalem yang sebelumnya dikuasai tentara salib selama 88 tahun—2 October 1187. Hari dimana suhu Istanbul mencapai 10°C—padahal musim gugur baru saja dimulai pada tanggal 22 September 2013. Hari dimana saya memutuskan untuk menarik kembali kata-kata saya bahwa “Sepertinya pulang ke Indonesia, menikah dan punya banyak anak lebih gampang dibandingkan kuliah S2”. Hari dimana saya berjanji untuk menuntaskan studi saya sampai akhir demi menjadi contoh yang baik bagi generasi penerus saya nanti. Dan sebuah hari dimana hanya demi merasakan krupuk yang dibawa langsung dari Indonesia, saya rela naik bis, kemudian naik kereta demi memenuhi rasa rindu yang mengharu biru terhadap kerupuk tersebut. Hari ini, dalam kereta saya membuka salah satu jejaring sosial dan mendapati sebuah berita berjudul “Habibie: Pesawat R-80 Akan Buat Surprise Dunia! Habibie mengatakan bahwa tidak ada jalan lain, agar orang-orang mudah berpindah tempat di benua maritim seperti Indonesia, selain menggunakan pesawat terbang. Rencananya pesawat tanpa awak ini akan menjadi alat transportasi di Indonesia akan mengudara tahun 2016 atau 2017.

Kapan Indonesia punya sistem transportasi seperti Turki? Dalam hitungan detik setalah saya melemparkan pertanyaan pada diri saya sendiri, ada sebuah kejadian yang saya lihat dari jendela kereta. Kejadian yang membuat saya terenyuh dan merasa sangat MALU. Bagaimana seorang kakek tua memakai sepatu yang ‘kebesaran’ demi melindungi dirinya dari dinginnya musim gugur Istanbul. Ia terlihat memperbaiki letak posisi pengganjal kakinya agar sepatu ‘kebesaran’ tersebut tak lepas ketika berjalan. Saya kemudian beranjak memperhatikan bajunya yang lusuh dan kumal. Saya kemudian beralih menatap sepatu saya. Masih bagus dan pas!  Saya sunguh merasa sangat hina. Mata saya mulai berair. Bagaimana mungkin terbersit keinginan untuk membeli sepatu boot baru sementara diluar sana, ada orang yang memakai sepatu lusuh dan ‘kebesaran’?—keinginan ini terbersit sekitar 15 menit sebelumnya setelah melihat sepasang sepatu boot kece. Saya kemudian memaki diri saya sendiri. Di negara maju seperti Turki saja masih ada orang-orang yang berada dibawah garis kemiskinan. Apalagi di Indonesia. Andai saja Indonesia memilki beberapa orang seperti habibie, beberapa orang saja. In sha Allah, Indonesia makmur.

Oleh sebab itu terhitung hari ini, saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk menghasilkan generasi-generasi cerdas nan tangguh seperti Habibie dan Dr. Warsito. Tentang sebuah ‘sepatu’ yang mengingatkan saya untuk mempersiapkan generasi penerus jauh hari sebelum ia dilahirkan. Catatan Sepatu.

Tentang Kenapa ‘The Legacy’

Catatan yang akan ditulis nanti adalah catatan untuk anak-anak saya kelak. Semoga berguna bagi mereka sebagai sebuah warisan ‘The Legacy’. Catatan yang berisi harapan-harapan seorang ibu—calon ibu tepatnya—untuk anak-anaknya kelak. Jadi, izinkan saya untuk memulai catatan ini untuk anak-anak saya—nanti. Berharap suatu hari, anak-anak saya akan membaca catatan ibunya ini.

 “Nak, sebelum kau pamerkan sepatumu—yang esensinya hanya sebagai pelindung kaki—pada orang-orang, berpikirlah terlebih dahulu bahwa di pelosok sana banyak orang yang belum bisa punya sepatu sepertimu”

“Nak, janganlah seperti ibumu ini yang sangat membenci pelajaran yang berkaitan dengan hitung-menghitung, apalagi yang namanya rumus turunan fisika yang susahnya nauzubillah—rumus yang beranak-pinak. Engkau—kalian—mustinya seperti Habibie, seperti Dr. Warsito yang memberi manfaat bagi orang lain. Jangan gunakan waktu hidupmu untuk kesia-sian nak. Lihatlah bagaimana ibumu ini, begadang tengah malam demi menulis catatan ini untuk kalian”

 “Nak, sabarlah membaca catatan-catatan ibumu ini, kelak kau akan mengerti kenapa ibumu melakukannya”

03 Oktober 2013.
Istanbul.

Advertisements