Kisah Lengkap Pemuda Ashabul Kahfi: Keagungan Allah, Kehebatan Ali, Kecerdasan Tamlikha

INSPIRASI

*

Dalam surat Al-Kahfi, Allah SWT menceritakan tiga kisah masa lalu, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah pertemuan nabi Musa as dan nabi Khaidir as serta kisah Dzulqarnain. Kisah Ashabul Kahfi mendapat perhatian lebih dengan digunakan sebagai nama surat dimana terdapat tiga kisah tersebut. Hal ini tentu bukan kebetulan semata, tapi karena kisah Ashabul Kahfi, seperti juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya.

View original post 4,754 more words

MUTIA(RA) HARI INI

MUTIA(RA) HARI INI

Di tengah menumpuknya tugas, laptop ngadat, presentasi yang menumpuk, saya menerima pesan lewat whatsapp beberapa hari yang lalu berisi permintaan bantuan untuk menemani rombongan mahasiswa S2 dan S3 Groningen-Belanda yang mau berkunjung ke Istanbul-Turki. Disebabkan mereka telah menghubungi beberapa rakan lain tetapi tidak ada yang bisa, akhirnya saya menyanggupi permintaan tersebut.

Singkat cerita hari ini saya menemani rombongan tersebut jalan-jalan di Istanbul. Jam 10 ketika sedang berada dalam Aya Sofia saya menerima pesan via whatsapp “Mbak akan hadir? Ustadz Yusur Mansur mau ketemu”. Masya Allah, saya ingin sekali ketemu Ustadz Yusuf Mansur tapi mau diapakan rombongan 26 orang ini? Tentu saja saya (dan mungkin orang lain juga) akan memilih hal yang sama: tetap menemani mereka sesuai dengan janji. Well, sebenarnya tidak hanya hal itu yang saya lewatkan hari ini, ada salah dua lagi yang saya korbankan: mengunjungi acara 7th International Student Festival in Istanbul dan Diskusi Mingguan RUHUM “The Power of Ethnography And The Study of Muslim Cultures”. Tapi, saya teringat kata-kata adik saya tersayang Lale Yuyun Puspitasari: kamu ada dua pilihan, mengecewakan banyak orang dan mengecewakan satu orang (dirimu sendiri). Ya, saya pilih mengecewakan diri saya untuk tidak mengecewakan 26 orang keluarga dari Groningen.

Dan hadirlah mutia(ra) mungil ini di rombongan tersebut. Saya: “Adik, namanya siapa? Umurnya berapa? SubhanAllah jilbabnya bagus beli dimana?”. Adik: “Mutia, empat tahun, jilbabnya beli di Indonesia”. Karena tidak tega melihat orangtua mutia yang kelihatan kelelahan mendorong stroller, akhirnya saya berkata kepada mutia: “Mutia, sini jalan aja sama kakak ya, biar jadi anak kuat, anak cerdas, pasti mutia bisa”. Dan sejak dimulai percakapan tersebut kami terus saling bergandengan tangan sepanjang jalan dan ia tetap menolak naik stroller walau orangtuanya memaksa. Percakapan kami tak jauh-jauh: bernyanyi, menghitung anak tangga yang kami naiki sampai dengan percakapan mengenai jilbab. “Adik itu rambutnya keluar, diperbaiki yah, kalau pakai jilbab itu rambutnya jangan ada yang keluar”. Sambil tersenyum dia memasukkan rambutnya yang terurai keluar jilbab. Singkatnya, di akhir waktu menemani keluarga dari Groningen saya minta bersalaman dengan mutia tapi ia menolak. Kecewa tentu ada, dan saya tetap meminta untuk salaman dengan mutia, tetap juga cinta saya bertepuk sebelah tangan. Akhirnya saya menyerah dan ibunyapun bertanya “Mutia kenapa gak mau salaman sama Kak Fatma?” dan ia menjawab sambil berbisik kepada ibunya (kalau saya tidak salah dengar): “Mutia sedih pisah sama Kak Fatma”. Seketika itu saya tidak tau mau menanggapi bagaimana. Walau pertemuan dengan Mutia hanya sebentar, kami berdua merasakan hal yang sama bahwa hati kami berdiskusi dengan tulus.

Benarlah bahwa kita mungkin meminta sesuatu dan Allah tolak untuk memberikan sesuatu itu tapi menggantikannya dengan yang jauh lebih baik. Seperti halnya dulu saya meminta sekolah di benua A atau benua B, tapi Allah menolak memberi salah satu dari keduanya. Dan, Allah memberikan saya benua C yang darinya saya bisa ke benua A dan benua B. Begitu pula dengan hari ini; saya mungkin melewatkan mutiara hikmah dari Ustadz Yusuf Mansur dan dari diskusi mingguan RUHUM. Tapi Allah menggantinya dengan ribuan MUTIA(RA) yang jatuh ribuan kali, DIHATIKU.

*Foto: miniatur keramik kincir angin khas Belanda dari keluarga Groningen.

YANG DICARI

Seringkali terkadang kita sering merasa kesal ketika barang yang kita cari tak ketemu-ketemu, tapi kalau tak dicari muncul dengan sendirinya. Atau dengan kata-kata lain: Saat tak dicari yang ada begitu banyak, saat dicari tak ada satupun yang muncul. Begitulah prinsip mencari pasangan hidup karena dengan begitu Tuhan tau konsistensimu dalam perjuangan mencari pasangan hidup.

JANGAN BERSEDIH LALE!

Jangan bersedih. Kau hanya perlu merelakan masa libur yang telah kau rencanakan berbulan-bulan lalu dan menggantinya dengan perjuangan. Jangan bersedih dikala orang lain berlibur, kau masih sibuk dengan setumpuk kertas-kertas itu. Jangan pula bersedih, kau hanya butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan itu dibandingkan dengan orang lain. Jangan bersedih, karena sejatinya istirahat yang abadi itu nanti di surga-Nya.

POLIGAMI

Akhir-akhir ini banyak sekali status facebook yang bertebaran di wall saya yang bertemakan poligami. Ustadz A dan politisi B sibuk dibicarakan sebagai contoh. Kebanyakan postingan facebook banyak dari kalangan wanita dan kebanyakan tidak setuju dengan hal ini.

Well, saya ingin kita sejenak melihat dari sisi pandang yang berbeda: keputusan sebenarnya terletak pada wanita A yang mau menjadi istri kedua atau tidak. Tentu kalau dia tidak mau, dia akan memilih pilihan lain yakni mencari lelaki single. Nah itu kan keputusan si wanita A yang mau menjadi istri kedua. Lantas kenapa kita sewot ngurusin rumah tangga orang? Karena intinya pilihan itu terletak pada wanita: ingin menjadi istri pertama atau istri kedua.

Kalau saya memilih menjadi istri pertama saja, seperti istri Nabi Ayub yang setia mendampingi dan menemami sampai mati dikala istri Nabi Ayub yang lainnya pergi hilang ditelan bumi. Tsaaaaaahhhhh.

Ini hanya pendapat pribadi, mohon maaf jika ada yang tidak berkenan karena pemilik akun blog ini otaknya sedang campur aduk.

KEKASIH BARU: GE

KEKASIH BARU: GE (baca: Ji)

Sumber Photo: Koleksi Pribadi

SUATU hari dalam perjalanan menuju desa yang sangat terpencil di pelosok pulau Lombok, saya pernah terlibat diskusi yang cukup menarik bersama pimpinan saya yang berkewarganegaraan America tapi keturunan Cina—bahasa populernya: Chinese American. Sebagai seorang asisten yang merangkap interpreter saya dituntut bekerja multi-tasking, begitu-pun dengan pimpinan saya: contohnya saja yang terjadi pada hari itu ketika seorang supir berhalangan masuk kantor. Jadilah ia mengendarai sendiri mobil untuk berkunjung ke lapangan yang menjadi agenda rutin setiap minggunya. Seperti yang saya sebutkan tadi bahwa hari itu kami menuju desa terpencil di daerah Kabupaten Lombok Utara. Daerah ini sebenarnya terletak di ujung Kabupaten Lombok Utara dan sangat dekat dengan daerah Kabupaten Lombok Timur. Sungguh, demi Allah banyak sekali pemandangan indah yang belum diketahui masyarakat Lombok—apalagi masyarakat Indonesia. Dan sesekali kami berhenti untuk memfoto objek-objek indah ini. Dan pada suatu menit di hari itu saya berkata.

Saya: “Andai saya punya kamera sendiri, pasti saya sudah mengumpulkan banyak foto-foto yang indah”
Lee: “Fatma, momen itu terkadang tidak perlu untuk diabadikan menjadi gambar, indahnya cukup kau kenang di dalam hati”
Saya: Iya tapi setidaknya saya bisa menunjukkan gambar tersebut kepada teman-teman saya, bahwa ada suatu daerah di Lombok ini yang indahnya tak terkira”
Lee: “Fatma, kamu tidak mengerti bahwa alam dan gambar itu sangat berbeda, ketika kamu mencoba memindahkan alam ke dalam sebuah gambar ada sesuatu yang kamu rusak: kamu telah merusak sesuatu yang disebut pengalaman. Dengan memperlihatkan gambar tersebut kepada temanmu yang dia lihat hanya gambar, dia tidak bisa merasakan pengalaman yang sama seperti pengalamanmu melihat langsung objek tersebut. Jadi, momen itu cukuplah kau kenang di hati”

Saya pun terdiam tak tau harus menjawab apa, saya sebenarnya mengamini perkataan pimpinan saya tadi tapi saya masih berpagang teguh pada pendapat saya yang tadi. Saya sebenarnya heran kenapa pimpinan saya yang seorang diver bersertifikat internasional dan lulus jurusan ekonomi bisa berbicara begitu dalam seperti itu.

***

Bulan September ketika mengikuti kuliah pertama tentang teori puisi, saya sangat heran ketika dosen saya ini menjelaskan tentang teori proses penciptaan puisi oleh pujangga yang sebenarnya menghancurkan esensi benda asli-nya. Ketika seorang pujangga mengubah sebuah objek menjadi sebuah rangkaian kata-kata, sebenarnya pujangga tersebut telah merusak objek aslinya karena ada sesuatu yang hilang di puisi tersebut: sebuah pengalaman. Pengalaman yang tidak akan pernah dirasakan oleh pembaca, pembaca hanya bisa melihat kata bukan melihat objeknya langsung.
Saya sangat heran betapa teraturnya sebenarnya kehidupan ini diatur oleh Tuhan Semesta Alam. Teori yang saya dapatkan bertahun-tahun lalu kini saya dengar kembali. Bedanya saya dulu mendapatkan teori ini dari seorang adventurer kelas kakap yang telah mengunjungi banyak negara dan telah merasakan berbagai rasa dunia dan mempunyai gelar pendek, teori lainnya saya dapatkan dari seorang dosen yang telah membaca berbagai buku dunia dan bergelar sangat panjang.

***

Saya kini menyadari bahwa ilmu itu bisa kita dapatkan dari mana saja dari orang yang bergelar pendek maupun yang bergelar panjang bahkan bisa jadi orang yang bergelar pendek tersebut lebih tau banyak—karena ia telah merasakan berbagai rasa dunia.

***

Izinkan saya bercerita tentang kekasih baru saya. Ketika pertama kali bertemu saya menganggapnya biasa-biasa saja, bahkan ketika seorang pelayan toko itu memperkenalkannya pada saya, saya cuek saja memperhatikan barang-barang di toko tersebut. Tapi kemudian takdir mempertemukan kami dengan tak sengaja dan jadilah pada tanggal 11.12.13 aku menerimanya. Tidak sepenuhnya saya menerima dia yang apa adanya, saya membutuhkan seorang kekasih yang elegan seperti orang-orang. Kekasih yang kapasitasnya jauh diatas rata-rata. Hal-hal itu tidak saya dapatkan padanya yang serba sederhana, dan jujur saja saya menyesal menerima dia menjaid kekasih saya.

Sampai pada suatu hari saya menceritakan permasalahan saya kepada teman sekamar saya. Ketika ia saya perkenalkan kepada teman sekamar saya, mata teman saya berbinar-binar seolah melihat hal yang sangat luar biasa. Saya terheran-heran kenapa teman saya sampai sebegitu bahagianya melihat kekasih saya itu.

Khan: “Fatma I can’t believe, what I see in front of my eyes is GE right?”
Saya: “Yes, it’s GE, why?”
Khan: “How much it cost you?
Saya: “Only 200 lira and I regret buying this camera, the brand from nowhere”
Khan: “Oh, Fatma it’s very good electronic brand from Germany! They are very famous Fatma. And you are so lucky to get this well-known brand camera for only 200 lira!”

Saya menyesal telah underestimate kekasih saya yang baru: kamera GE. Ternyata kamera ini adalah kamera merek terkenal yang dibuat di Jerman. Kesimpulannya adalah bisa jadi sesuatu itu buruk dimata kita tapi sangat berharga dimata orang lain. Hal ini terjadi bukan hanya karena kita tidak pandai bersyukur tetapi juga karena kita tidak pandai membaca dunia: seperti saya yang tak tau bahwa GE adalah sebuah brand terkenal dari Jerman.

***

Selamat datang dalam hidupku GE, kita akan mengabadikan momen-momen penting itu bersama. Bukan karena saya ingin menghancurkan objek aslinya seperti teori yang dikemukakan dosen itu tapi karena saya ingin suatu hari nanti ketika usia memakan ingatan saya engkau akan menjadi pengingat bahwa Tuhan Semesta Alam telah memberikan saya kebahagiaan yang tak terhitung jumlahnya. Sehingga saya terhindar dari menjadi manusia yang kufur akan nikmat. Salam sayang untukmu GE (baca: Ji).

Istanbul 11.12.13
Hari dimana kamu menjadi kekasihku dan juga hari dimana kau menemaniku mengabadikan momen badai salju diantara dua masjid: Aya Sofia dan Blue Mosque.

Gambar GE dari dekat:

Salah satu gambar yang menggambarkan sisa-sisa musim gugur yang masih bisa dilihat di musim dingin yang diabadikan oleh GE:

Sumber Photo: Koleksi Pribadi

Sumber Photo: Koleksi Pribadi