SAYA BUKAN ANAK TAKSIM!!!

2012-11-05 16.14.37Malam ini saya berlari-lari dari stasiun vapur (sejenis ferry) menuju stasiun bis (berlari selama 10 menit). Sampai stasiun bis, lari-lari cari bis menuju asrama. Ketemu. Bisnya berangkat. Di halte bus ke 6 (sekitar 15 menit) saya turun, lari-lari lagi menuju asrama. Jam di hp menunjukkan 5 menit lagi pintu asrama terkunci. Berhasil. Masuk asrama 3 menit sebelum asrama tutup. Sesampainya dikamar salah satu teman kamar mengatalan “ooo, taksim kiz geldi”. “cewek taksim datang”. Saya sangat marah. Saya tau mereka bercanda. Tapi saya benar-benar tidak terima. Saya tidak terima dikatakan sebagai cewek yang suka nongkrong di daerah Taksim dimana club-club malam banyak bertebaran, dimana minuman keras dijajakan dengan bebasnya. Saya tak terima itu, meskipun saya tau mereka bercanda. Seandainya saja meraka tau apa yang saya kerjaan.

Begadang mengurus ini dan itu sampai jam 2. Termasuk untuk konferensi di Serbia. Paginya ke kampus sampai jam 5:30 sore. Pulang. Tiba-tiba tengah jalan terima telpon. Jemput seseorang di bandara. Lari-lari dari halte bis menuju stasiun metro. Lari-lari 15 menit. Orang-orang Turki heran. Saya tak peduli. Naik metro. Gak dapet tempat duduk. Berdiri 45 menit. Sampai stasiun terakhir lari-lari keatas. Dari stasiun bawah tanah. Untung ada eskalator. Bahkan lupa kalau ada lift. Di atas eskalatorpun lari-lari. Sampai lantai 1 bandara. Lari-lari cari arrival terminal. Lari-lari 10 menit. Ketemu. Lari-lari lagi di atas eskalator menuju lantai 2. Sampai. Tempat pemeriksaan barang. Nunggu 10 menit. Padahal orang lagi sepi. ternyata petugasnya lalai. Tidak melihat say ayang menunggu daritadi. Lari-lari lagi. Akhirnya orangnya ketemu. Liat jam sudah jam 7an. Orangnya saya ajak jalan cepat. naik metro lagi 45 menit. Untung kali ini gak berdiri. Sampai. Geret2 koper lagi. Jalan cepat. Sholat. Geret2 koper lagi menuju asrama. Orangnya saya tinggalin di taman dekat asrama. Cowok gak boleh masuk soalnya. Naikin koper berat ke lantai 2 asrama. Naik tangga. Angkut sendiri. Gila! Setelah itu. Saya balik menemui orangnya lagi. Orangnya saya ajak lari-lari. Kalau nggak bisa ketinggalan bis. Naik bis. Berdiri lagi. 25 menit. Turun bis, jalan cepat cari stasiun vapor (ferry). Dari Istanbul Eropa ke Istanbul Asia. Di Ferry 45 menit. Dingin. HP mati. Masukin kartu hp saya ke hp orang itu. Telpon temen yang buat tempat nginep orang ini. Sampai stasiun vapor. Lari-lari nyari stasiun bus. Ketemu. Orangnya saya suruh naik. What. Kartu hp saya di hp orang itu. Orangnya sudah pergi. Pulang. Lari-lari lagi ke stasiun ferry. Untung nunggu 15 menit bisa rehat. Ferry dateng. Naik. Lari-lari lagi cari tempat duduk biar gak berdiri selama 45 menit. Sampai. lari-lari lagi cari stasiun bus. Ketemu. Berangkat. Ketemu orang Indo di bis. Sempat ngobrol. Gak bisa lama-lama. Nanti telat sampai asrama. Sampai di halte dekat asrama. Lari-lari lagi menuju asrama. masuk 3 menit sebelum pintu asrama dikunci. Lari-lari ke kantin. Belum makan sejak siang. Mesen. Petugas kantin asramanya sayang sama saya. Sering dikasih makana gratis. Padahal limit untuk makan sektar 30 ribu sekali makan. Termasuk malam ini. Dikasi makanan gratis plus jatah 30 ribu. Terima kasih Allah. Makan. Perut sakit. Karena belum diisi dari siang mungkin. Untung ada minyak kayu putih dari Indo. Makan selesai. Naik. Masuk ke kamar. Mereka bercanda dengan menyebut saya ANAK TAKSIM. Saya marah! Ingin saya teriak di depan wajahnya. Tapi saya urungkan niat itu, jadilah saya ungkapkan disini. Meskipun mereka bercanda. SUNGGUH, saya bukan anak Taksim. jam seginipun saya baru saja menyelesaikan laporan keuangan sebuah organisasi. Sekarang sedang mengetik uneg-uneg ini sambil kepala seperti berputar-putar. Sepertinya saya harus segera tidur. Selamat malam. Dan sekali lagi SAYA BUKAN ANAK TAKSIM yang suka menyia-nyiakan waktu.

#03; 29 AM.

Advertisements

SAOS ABC DAN LALAI

Beberapa hari ini memang aku sedang di landa rindu yang membuncah terhadap makanan Indonesia, apalagi makanan yang serba pedas. Kadang-kadang makanan asrama yang hampir tawar ku tatap dengan nanar. Untunglah segera mengingat pesan Rasulullah bahwa tak boleh mencela makanan, setidak enak apapun makanan itu.
Berlanjut ke cerita lain, beberapa hari ini sering chat dengan abang ketemu gede di negeri nun jauh disana, ternyata ia mempunyai stok sambel yang luar biasa banyak. Alhamdulillah Ia akhirnya berbagi dengan aku yang merana ini. Katanya ada salah seorang temannya yang akan ke Istanbul dalam rangka ikut pengajian atau apa. Ya ampuuuun, senang sekali rasanya. Sambal impian itu akan segera tiba 🙂
Dan abang ketemu gede itu tiba-tiba memberikan informasi tentang siapa yang akan mengantar sambel itu, serasa ditampar dengan seribu tangan! Ternyata yang akan mengantar sambel itu adalah salah seorang anak Bunda Yoyoh Yusro yang kesemua anaknya adalah penghafal Al-Qur’an.
Sorenya entah kenapa tiba-tiba ingin membuka blog salah satu teman yang berada di Turki juga. Post terakhirnya adalah, ia ingin rehat sejenak dari dunia maya baik itu twitter dan facebook, untuk memperbaiki hafalannya. Serasa di tampar dengan seribu tangan lagi.
Sepertinya beberapa tanda-tanda ini Allah sengaja kirimkan agar ku juga memerbaiki hafalan yang masih sangat secuil.
Aku percaya bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini, bukanlah suatu kebetulan abang ketemu gede itu ingin berbagi sambel denganku, bukanlah suatu kebetulan sang penghafal Al-Qur’an itu ke Istanbul, bukanlah suatu kebeutlan tiba-tiba ada keinginan dihati ini untuk membuka blog temen itu. Bukanlah suatu kebetulan, melainkan Allahlah yang menggerakkan semua hati itu agar hamba yang tak tau bersyukur ini kembali memperbaiki diri. dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang ku kuatkan azzam itu. Bismillahirrahmanirrahim.

# mari perbaiki diri, bahwasanya perempuan yang baik-baik itu adalah untuk laki-laki yang baik-baik, dan laki-laki yang baik-baik untuk perempuan yang baik-baik pula.

I CAN WAIT FOREVER

I CAN WAIT FOREVER

Setiba di kamar asrama, saya langsung merebahkan diri di atas kasur yang sungguh sangat berantakan. Saya tak peduli. Badan saya lelah, tapi jiwa saya jauh lebih lelah. Stress kuliah. Saya sedang menatap langit kamar asrama dengan nanar ketika teman sekamar mulai benyanyi tak karuan “I can wait forever, If you say you’ll be there too”. Mendengar rangkaian kata itu seperti ada sebuah mesin waktu yang membawa saya ke ingatan masa lalu. Menembus batas beribu-ribu mil sana, menembus waktu bertahun-tahun yang lalu.

***

Sekali dalam seminggu, rutin bagi saya melewati jalan berkelok di hutan pusuk yang hijau menuju kantor cabang Lombok Utara. Saya memilih tidur membiarkan bos saya menyetir sendiri. Supirnya sedang sakit.
“Fatma. Sleeping? Fatma I spoil you too much, now you sleep while your boss driving?”
Saya tau boss saya sedang bercanda. Saya tetap pura-pura tidur. Saya sedang tidak ingin mendengarkan ceritan tentang keluarga gangsternya di negeri Paman Sam sana. Saya sedang penat dengan pekerjaan saya. Saya bukan tidak bersyukur mempunyai bos yang sangat baik, yang sering membelikan kosmetik bermerek dari negaranya, yang kosmetik itu berakhir di tangan teman-teman saya. Bukan saya tidak bersyukur tentang gaji saya yang melampui gaji teman-teman seangkatan saya yang bekerja di bank. Bukan saya tidak bersyukur tentang fasilitas wah yang saya dapat. Saya hanya tidak ingin menambatkan kapal di pelabuhan dengan ombak tenang, saya ingin kapal itu berlayar menerjang ombak di lautan luas nan ganas karena untuk itulah kapal dibuat.

Bayang-bayang kampus yang letaknya beribu-ribu mil itu mulai menari-nari di otak saya. Kampus yang dari halamannya kita bisa menikmati pemandangan laut. Auckland University.

Bayangan kampus impian tadi buyar karena lagu yang diputar boss saya. “I can wait forever, if you say you’ll be there too. I can wait foever If you will. I can wait forever more”. Oh, betapa lagu ini membuat bayangan kampus impain itu menari-nari tak henti-henti di hati. Ya Allah I can wait forever If you say I will be there too. I can wait forever if you say I’ll. I can wait forever more Allah.

***

Ada banyak hal yang mengingatkan kita kembali pada semangat yang mungkin luntur seiring berjalannya waktu. Itu hal yang lumrah menurut saya. Hal yang harus diingat adalah bagaimana kita peka terhadap tanda-tanda yang ada disekitar kita yang mencoba terus mengingatkan kita tentang keringat-semangat itu. Tentang keringat dan semangat yang kita habiskan sampai ketitik ini. Akan ada teman yang secara tak sengaja mengingatkanmu tentang semangat itu. Sukses itu sulit, tapi lebih sulit lagi kalau tidak sukses. Hari ini takdir tidak membawa saya ke kampus dimana saya bisa melihat pantai Auckland yang menawan tapi takdir membawa saya ke kampus dengan pemandangan laut dengan bonus jembatan Asia-eropa.

#Cobalah memutar lagu “I Can Wait Forever”nya Air Supply sembari memikirkan mimpi-mimpi teman-teman, dan bersiaplah dengan letupan-letupan semangat-semangat itu.

PENGGARIS DAN POHON TAK BERDAUN ITU

POHON TAK BERDAUN ITU

Sewaktu kecil aku pernah bercita-cita menjadi seorang detektif, alasannya cukup simple; karena sering nonton film barat sama bapak. Tak ayal, aku sering sok menggunakan insting yang aku sebut sebagai insting seorang detektif. Misalnya saja jika ada salah satu barang-barang saya hilang, insting itu langsung bekerja. Dan pada suatu hari penggaris kesayanganku hilang. Di otakku sudah ada satu nama bermodalkan beberapa bukti; ia suatu hari melihat penggarisku itu dengan tatapan yang tak dapat dideskripsikan. Ya, satu nama saja. Bagaimana tidak, ia satu-satunya siswa dekil yang pernah aku temui di sekolah paling top di desa ini. Hari itu ketika jam istirahat, aku tatap ia dengan pandangan jahat. Pandangan yang seolah-olah mengatakan; awas saja nanti kalau terbukti kau yang mengambil penggaris air warna warni kesayanganku itu, ku laporkan ke orang tuamu. Setelah menerima tatapan jahatku, ia menunduk menatap meja sembari mengusap ingusnya dengan seragam coklat yang tak coklat lagi karena dekil. Ku perhatikan ia dari jauh, siapa tau dia membuka tasnya yang penuh jahitan sana sini. Jangan ditanya, tasnya lebih parah dari seragam coklatnya itu. Aha! Akhirnya dia membuka tasnya, sebentar lagi aku akan kembali melihat penggaris kesayanganku. Ah! Naas nasibku, aku tak bisa melihat dengan jelas apa isi tasnya. Yang aku lihat sekarang adalah ia sedang membuka kresek bekal makan siangnya; nasi yang dijemur kering kemudian digoreng. Aku kemudian menatap bekal makan siangku, nasi goreng telur yang ogah-ogahan aku makan. Aku menelan ludah. Bukan karena lapar tapi karena kasian padanya. Ingin rasanya ku tawarkan nasi goreng yang mungkin akan berakhir ke tong sampah ini padanya. Tapi rasa benci mengalahkan segalanya.

Aku sudah punya bukti-bukti yang cukup; penampilannya yang dekil dan informasi teman-temanku bahwa mereka sering menemukan barang-barang yang tak mungkin dipunyai oleh orang seperti dia di dalam tas buruk rupanya itu. Bravo! Satu bukti lagi, ketika aku masuk kelas dan ingin mengambil penggarisku yang ternyata tak ada, ialah satu-satunya orang di dalam kelas. Tak salah lagi. Pasti ia orangnya. Pantaslah tak ada orang yang mau dekat-dekat dengannya. Pencuri sih!

Dengan dendam membara aku pulang kerumah, segera ingin menceritakan kejadian ini pada bapak agar ia segera melaporkannya ke kepala sekolah. Sampai di rumah, aku melihat penggaris air warna warni itu ada ditangan Pita, adikku.

Sembari nyengir kuda ia berkata “Maaf kak, tadi pagi penggaris Pita patah jadinya minjem punya kakak”

Ternyata insting detektifku itu sebenarnya tak lebih dari rasa suudzon belaka yang didasari oleh rasa iri. Rasa iri karena ia sering memperoleh nilai sempurna di mata pelajaran matematika. Mata pelajaran yang mati-matian aku pelajari tapi berakhir dramatis seperti serial-serial telenovela Maria Mercedes. Perjuanganku gagal, aku harus puas hanya dengan angka 7.

Keesokan harinya aku berniat minta maaf padanya, tapi entah kenapa rasa gengsi itu menguasai segalanya. Sebagai gantinya aku memberikan penggaris itu padanya. Toh juga otakku tak terlalu encer dalam mata pelajaran matematika. Sebagus apapun penggaris yang aku pakai, tak akan mengubah nilai matematikaku yang selalu stagnan diangka 7 sejak kelas 1 SD.

Hari itu ketika aku meletakkan penggaris itu di tangannya. Ia menatapku dengan tatapan penuh tanya.

“Penggaris ini untukmu, kamu suka kan?”

“Benarkah? Kau baik sekali”

Hanya itu yang bisa ia katakan. Seandainya kau bisa melihat sorot matanya waktu itu maka kau tak akan pernah tega untuk menuduhnya dengan tuduhan yang bukan-bukan meski hanya dalam hati. Sebuah sorot mata seperti sorot mata ibu yang melihat anaknya pertama kali berjalan dan juga seperti seorang bapak yang pertama kali mendengar anaknya yang baru belajar bicara mengatakan “bapak”. Sorot mata bahagia. Oh iya, gadis itu bernama Mur, Murniati lengkapnya. Ia semurni namanya.

Semenjak hari itu ia sering datang ke rumahku, bukan untuk bertemu denganku, tapi untuk membantu apa saja yang ia bisa. Mencuci piring, mengepel, mencuci baju, membantu ibuku memasak. Dan kau tau? Ia lakukan itu hanya karena sebuah PENGGARIS!

***

Kembali insting detektifku muncul untuk kesekian kali ketika melihat pohon tak berdaun itu. Pasti ini pohon yang terkenal itu. Ah, tak mungkin pohon itu ada juga disini. Lagipula, semenjak kejadian masa silam itu, aku kapok sekapok kapoknya kapok untuk mempercayai insting gilaku. Tak usahlah aku memikirkan pohon yang daun saja tak punya. Lebih baik aku pikirkan kuliah yang semakin mencekik.

Maret ini, ternyata kecurigaanku terbukti bahwa pohon tak berdaun di persimpangan jalan yang selalu kulewati ketika hendak ke kampus itu adalah pohon cherry blossom (sakura). Fuih, akhirnya instingku berguna juga. Dan, sungguh demi Allah yang telah menciptakan Turki—Istanbul—bahwa daerah ini adalah surga bagi para fotografer dan penulis. Surga dimana cita rasa Eropa dan Asia bisa anda dapatkan di daerah ini. seperti kopi 3in1, lengkap jadi satu.

Bersambung…

Note: Kisah ini hanya fiktif belaka, dipersembahkan untuk adik tercinta–Lale Yuyun Puspitasari—yang berulang tahun bulan Maret ini. Semoga umurmu berkah adik sayang.

AURORA DAN MANDALIKA

AURORA DAN MANDALIKA

AURORA DAN PUTRI MANDALIKA
—ketika aku tiada nanti—

SUATU pagi yang dingin di musim salju, aku berlari-lari kencang untuk memenuhi janji untuk bertemu seseorang. Hah! Kebiasaan buruk itu aku ulangi lagi! Bangun telat. Aku tau telat tidur karena banyak hal yang dikerjakan semalaman bukan berarti menjadikan itu sebagai alasan untuk bangun telat, oh Tuhan, ampuni aku sekali lagi. Aku tau Engkau Maha Pengasih.

Langkah kakiku yang pendek tak bisa mengimbangi orang yang sedang berjalan di depanku, ibaratnya seperti ini, jalan kencang bagi mereka adalah berlari cepat bagiku. Meski kadang-kadang tubuh kecilku terhempas orang-orang tinggi itu, aku tetap berlari, aku ingin memenuhi janji! Sembari berlari aku bisa melihat menara Masjid Fatih dikelilingi burung-burung camar, atau mungkin burung dara. Sebuah masjid yang didirikan di dekat rumah dan makam Sultan Muhammad Al-Fatih, Sultan Penakluk Konstantinopel. Masjid yang dibangun di salah satu bukit tertinggi di Istanbul, jadi semua pejalan kaki bisa melihat kubah dan menara masjid dari jauh.

Beberapa ratus meter dari masjid ini, ada sebuah tembok yang selalu mengusik pikiranku bahwa “arsitek dahulu sungguh cerdas”. Bahwasanya umurnya mungkin ratusan tahun tapi tetap kokoh berdiri sampai hari ini. Tembok yang di bawah lorong-lorong jalan-jalan dibangun sehingga setiap orang yang melewati jalan ini akan terkagum-kagum. Begitu kokohnya hasil karya arsitek beratus-ratus tahun yang lalu. Inilah yang membuatku sangat heran. Bayangkan. Mahasiswa arsitek Turki, mahasiswa biasa saja yang kuliah arsitek tidur-tidur mereka sangatlah sedikit apalagi dengan arsitek ternama muslim Mimar Sinan? Inilah mungkin yang disebut oleh salah satu politikus ternama bahwa lambung mereka tidak lagi bersahabat dengan tempat tidur.

Ah siapa aku ini yang memusingkan soal arsitek dan politik? Aku mempercepat lariku yang melambat karena memikirkan tentang arsitek Turki tadi, melewati masjid yang lainnnya lagi, melewati tembok yang lainnya lagi, melewati bangunan tua yang lainnya lagi, yang masing-masingnya mempunyai sejarah yang berbeda. Sejarah yang patut untuk dikenang.

Sebenarnya aku paling benci menunggu di stasiun bis ini. Banyak turis, banyak pekerja, banyak mahasiswa. Aku suka sepi meski tak suka juga dengan sendiri. Aku duduk si sebuah bangku halte, tak lama pikiranku bergelayut kemana-mana lagi. Termasuk tentang dinginnya pagi ini. Oh, aku benar-benar merindukan hangatnya matahari bersinar. Walau bukan orang yang pandai bersyukur, bukan pula yang kufur nikmat, tak pernah ku mengutuk matahari yang bersinar terik di daerahku itu. Orang-orang yang sebenarnya perlu datang ke negara ini adalah orang-orang yang sering mengutuk matahari, agar mereka tau arti sebuah terik matahari. Ah, tu kan kemana-mana lagi pikiran ini, tapi lanjutkan saja toh teman itu belum juga muncul.

Aku berjalan mondar mandir sembari memperhatikan tumpukan salju-salju itu. Kemudian teringat sebuah cerita dongeng tentang seorang anak kecil bernama Aurora dan seorang putri bernama Mandalika. Meski berbeda, kedua nama ini sungguh berkesan. Aurora memberikan sinar dengan warna-warna indah menghiasi di belahan bumi Kanada sana. Sedangkan Putri Mandalika memberikan cacing dengan warna-warna indah menghiasi lautan di pantai selatan Pulau Lombok. Aurora menghilang ketika ia tak punya siapa-siapa lagi di tengah musim dingin yang mencekam, dan sesaat setelah ia hilang, muncullah cahaya indah yang dipercaya sebagai jelmaan Aurora. Sedangkan Putri Mandalika menghilang ketika ia menceburkan dirinya ke laut tatkala tak ingin pangeran-pangeran yang menyukainya bersengketa kemudian berperang dan menimbulkan kerugian bagi rakyat jelata, sesaat setelah ia mencebutkan diri mucullah cacing warna-warni itu.  Dan meski berbeda, ada satu hal yang sangat mirip di antara keduanya; memberikan keindahan ketika mereka tiada. Akankah aku juga bisa memberikan keindahan ketika aku tiada nanti?

Beberapa saat otak dan juga hatiku hening sebelum dibuyarkan panggilan keras teman yang kutunggu semenjak satu jam yang lalu.

“Lale, ayok kita pergi, Danang udah nunggu disana”

#Catatan di pagi yang dingin. Senin, 25 Februari 2013. Yang malam sebelumnya saya menulis catatan tentang “GILA”.

Foto Aurora

aurora perseidmoonlightaurora9_westlake_big

GADIS BERMATA HIJAU

Image

Dia adalah orang pertama yang aku temui di kamar asrama ini. Dia adalah orang pertama yan menawarkan tisu untuk membersihkan lemari yang entah berapa lama tak pernah dibersihkan oleh pemilik sebelumnya. Dan dia pulalah yang pertama kali memberikanku coklat di tempat baruku ini.

Tiba-tiba saja, lima bulan setelah hari itu, ia berbicara dengan nada yang sangat gembira sembari memperlihatkan jilbabnya.
“Fatma do you know why I love this scarf?”
“No, I don’t” sembari ku geleng-gelengkan kepala.
Ia kemudian melilitkan jilbab itu, persis seperti orang yang mengenakan burqa (cadar) sehingga yang terlihat hanya matanya. Kemudian, sambil mengedip-ngedipkan matanya ia berkata
“Now, you know?”
Aku tetap berkata “No, I don’t”
“Oh Fatma! Now look into my eyes!”
“What’s wrong with your eyes?”
“Fatma! My eyes are green and this scarf is green that’s why I love green. And plus, heaven color is green”

Ia kemudian berlalu dari hadapanku. Sedangkan aku termanggu sendiri. Oh betapa buruknya aku sebagai seorang teman kamar. Sampai bulan kelima aku baru tau kalau matanya berwarna hijau. Itupun karena kejadian yang baru saja.

Dia. Gadis bermata hijau dari Serbia itu bernama Halime. Gadis bermata hijau yang berlari-lari menaiki tangga karena telat sholat. Gadis bermata hijau yang sering bangun seperempat malam. Gadis bermata hijau yang juga mempunyai rambut pirang berombak. Perpaduan yang sempurna. Ah, ia sungguh cantik. Secantik hatinya.

Fatih, Istanbul
March 13, 2013

UFUK

Tiba-tiba saja teringat seseorang yang pernah saya temui beberapa menit saja. Waktu itu saya sedang berjalan di sekitar Fatih, menuju asrama. Tiba-tiba saja ada orang yang menyapa “Hello”. Ufuk namanya. Sepintas, ia seperti namanya. Ufuk yang menenangkan.

Entah kenapa tiba-tiba teringat padanya dan tiba-tiba saja saya kasihan padanya. Waktu itu saya menolak tawarannya, tawaran untuk menikah dengannya. Gila. Itu pikirku waktu itu. Yang benar saja, baru ketemu beberapa menit sudah meminta saya menikah dengannya. Bener-bener tidak habis pikir saya.

Tapi setelah berbulan-bulan lamanya, ternyata saya baru sadar. Mungkin saja Ufuk tergolong ke lelaki yang disebut “serius”. Lelaki yang tidak ingin berpacaran. Mungkin saja ia kesulitan menemukan wanita di Turki yang di ajak menikah langsung—tentunya dengan proses perkenalan yang singkat padat—karena kebanyakan wanita disini inginnya pacaran dulu. Inilah sebabnya di awal tadi saya mengatakan bahwa saya kasihan padanya.

Tapi ini hanya kemungkinan saja. Hanya hipotesa saya. Ya. Mungkin saja.

Dan saya sangatlah heran, kenapa saya tiba-tiba ingat dan kasihan padanya.

Anyway, saya tidak menyesal menolak tawarannya, jujur sebagai seorang manusia biasa, cowok-cowok di negara ini sangatlah ganteng. Hidung mancung, badan tinggi dengan mata yang indah—dari mulai hijau samapai dengan biru. Tapi ada sebuah prinsip yang saya pegang teguh, janjiku pada Indonesia. Aku cinta Indonesia. Tak ada yang lain. Itu saja.

#Saya jadi teringat buku baru Ustadz Fliex “Udah Putusin Aja!”. Salam buatmu Ufuk, semoga menemukan wanita yang kau idamkan. 🙂
March 12 2013
Fatih, Istanbul.